Kembang Api


Jumat, 04 November 2016

Desa Sukatani yang harus dibenahi dari Pendidikan

Desa  Sukatani, adalah kawasan yang teringgal dengan IPTEK
PROFIL DESA

 

DESA                                  : SUKATANI
KECAMATAN                     : SUKATANI
KABUPATEN                      : PURWAKARTA
PROVINSI                            : JAWA BARAT

Luas Wilayah Desa Sukatani 652.298 Ha. Yang terbagi 2 Dusun , 10 Rw ( Rukun Warga dan 36 Rt ( Rukun tetangga ).

Dusun I meliputi         : Rw – 01,   Rw – 02,   Rw – 03,    Rw – 08,   dan  Rw – 09
Tanah Daratan             : 254.425 Ha.
Tanah Pesawahan        :   28.650 Ha.

Dusun II meliputi        : Rw – 04,   Rw – 05,   Rw – 06,    Rw – 07   dan   Rw – 10
Tanah Daratan             : 236.260 Ha
Tanah Pesawahan        :   48.660 Ha.

SOSIAL BUDAYA

Tabel 5. Kondisi Sosial Budaya Desa
No.
Uraian
Jumlah
Keterangan
1
Kependudukan :

A. Jumlah Penduduk
·         Jumlah laki-laki
·         Jumlah perempuan
D. Jumlah wajib KTP
·         Jml Wajib KTP Laki-laki
·         Jml Wajib KTP Prmpuan
G. Jumlah KK


10.969. Orang
5.510. Orang
5.459. Orang
8.202. Orang
4.310. Orang
3.892. Orang
2.861. Orang










2
Kesejahteraan Sosial :
1.      Jumlah KK Prasejahtera
2.      Jumlah KK Sejahtera
3.      Jumlah KK Kaya
4.      Jumlah KK Sedang
5.      Jumlah KK Miskin
764. Orang
237. Orang
123. Orang
755. Orang
982. Orang
Jumlah KK     2.861
3
Tingkat Pendidikan :
1.      Tidak tamat SD
2.      SD
3.      SLTP
4.      SLTA
5.      Diploma/Sarjana
2.293. Orang
2.933. Orang
2.554. Orang
2.726. Orang
463. Orang
Jumlah 10.969
4
Mata Pencaharian :
1.      Buruh Tani
2.      Petani
3.      Peternak
4.      Pedagang
5.      Tukang Kayu
6.      Tukang Batu
7.      Penjahit
8.      PNS
9.      Pensiunan
10.  TNI/Polri
11.  Perangkat Desa
12.  Bamusdes
13.  Kader Pos yasdu
14.  LPM
15.  Linmas
16.  RW
17.  RT
18.  PKK
19.  Pengrajin
20.  Industri kecil
21.  Buruh Industri
22.  Karang Taruna
23.  Tidak Bekerja
3.310. Orang
943. Orang
67. Orang
570. Orang
239. Orang
250. Orang
50. Orang
360. Orang
100. Orang
35. Orang
11. Orang
11. Orang
50. Orang
5. Orang
15. Orang
10. Orang
36. Orang
22. Orang
150. Orang
95. Orang
153. Orang
11. Orang
1.709. Orang
Jumlah 8.202
5
Agama
1.      Islam
2.      Kristen
10960. Orang
9. Orang


Dari tabel tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa :

1.    Kependudukan.
Jumlah usia produktif lebih banyak dibanding dengan usia anak-anak dan lansia. Perbandingan usia anak-anak, produktif, dan lansia adalah sebagai berikut: 21% : 61% : 18%. Dari 2084 jumlah penduduk yang berada pada kategori usia produktif laki-laki dan perempuan jumlahnya hampir sama / seimbang.

2.            Kesejahteraan
Jumlah KK Sedang  mendominasi yaitu 29,2 % dari total KK, KK pra sejahtera  24 %, KK sejahtera 17,9 % KK Kaya 16,3 %. dan KK Miskin  12,5 %. Dengan banyaknya KK prasejahtera inilah maka Desa Sukatani termasuk dalam DESA TERTINGGAL

3.            Mata Pencaharian
Mayoritas mata pencaharian penduduk adalah petani dan buruh tani. hal ini disebabkan karena sudah turun temurun sejak dulu bahwa masyarakat adalah petani dan juga minimnya tingkat pendidikan menyebabkan masyarakat tidak punya keahlian lain dan akhirnya tidak punya pilihan lain selain menjadi buruh tani dan buruh Pabrik.

Gagasan saya dari tabel diatas pendidikan yang harus untuk itu diperlukan solusi-solusi kongkrit yang bisa diaplikasikan dan dilaksanakan, berikut solusi yang bisa dilakukan :
Ø  Berdiskusi dengan pihak institusi untuk mengadakan program KKN yang intinya adalah penerapan keilmuan di tengah-tengah masyarakat. Pengadvokasian KKN kepada insitusi merupakan langkah kongkrit untuk menyadarkan kembali kepada institusi bahwa mereka punya andil dalam mengabdi kepada masyarakat sebagaimana tertuang dalam tri dharma perguruan tinggi.
Ø  Ikut serta dan menjadi bagian dalam program-program yang berkenaan dengan pemberantasan buta aksara, sebagai contoh ikut menjadi mentor di PUDING - Pustaka DI Hari Minggu, atau menjadi pengajar di rumah pintar. Membiasakan berdiskusi dengan masyarakat sekitar sehingga menumbuhkan rasa kepedulian atau dalam bahasa yang lebih keren yaitu sense of caring.
Ø  Dengan adanya rasa kepedulian maka kita akan dapat merasakan bagaimana yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, dan akan membuat kita semakin jelas dalam menentukan permasalahan apa yang saat ini harus diselesaikan.

Sumber


Minggu, 02 Oktober 2016

Perkembangan Teknologi di Indonesia

Hidup di zaman globalisasi atau bisa juga disebut zaman modernisasi. Modernisasi sendiri dalam ilmu sosial merujuk pada bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik dengan harapan kehidupan masyarakat akan menjadi lebih baik. Modernisasi mencakup banyak bidang, contohnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Zaman modernisasi seperti sekarang, manusia sangat bergantung pada teknologi. Hal ini membuat teknologi menjadi kebutuhan dasar setiap orang. Dari orang tua hingga anak muda, para ahli hingga orang awam pun menggunakan teknologi dalam berbagai aspek kehidupannya.

Kebutuhan manusia akan teknologi juga didukung dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan teknologi berkembang secara drastis dan terus berevolusi hingga sekarang dan semakin mendunia. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya inovasi dan penemuan yang sederhana hingga sangat rumit. Bahkan, kurang dari 10 tahun terakhir, teknologi handphone yang awalnya hanya sebuah alat komunikasi nirkabel berkembang menjadi alat komunikasi yang dapat mengambil foto, merekam video, mendengarkan musik, dan mengakses internet dalam hitungan detik.

Perkembangan teknologi saat ini merupakan dasar untuk mengembangkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemajuan suatu negara didasarkan atas seberapa jauh ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai oleh negara tersebut. Hal ini sangat beralasan dikarenakan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dasar dari setiap aspek kehidupan manusia.



Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang hidup dalam lingkungan global, maka mau tidak mau juga harus terlibat dalam maju mundurnya penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan, khususnya untuk kepentingan bangsa sendiri. Sebagai negara yang masih berkembang, Indonesia dianggap belum terlalu maju dalam penguasaan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurut mantan Menteri dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida Alisjahbana, kemajuan teknologi di Indonesia masih rendah. Ada beberapa indikator yang membuktikan rendahnya tingkat teknologi di Indonesia, seperti kurangnya kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi di sektor industri, sinergi kebijakan masih lemah, dan sedikitnya jumlah ilmuwan di Indonesia.

Berdasarkan data United Nation for Development Program (UNDP) pada tahun 2013, indeks pencapaian teknologi Indonesia berada pada urutan ke-60 dari 72 negara. Ukurannya berdasarkan kepada penciptaan teknologi yang dilihat dari perolehan hak paten dan royalti atas karya dan penemuan teknologi, difusi inovasi teknologi mutakhir yng diukur dari jumlah pengguna internet dan besaran sumbangan ekspor teknologi terhadap barang ekspor, difusi inovasi teknologi lama yang dilihat dari jumlah pengguna telepon dan pemakai listrik, tingkat pendidikan penduduk berdasarkan rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas, dan angka partisipasi kasr penduduk yang menempuh pendidikan tinggi di bidang iptek.

Rendahnya kemajuan teknologi di Indonesia terlihat di Indonesia terlihat dari minimnya anggaran pemerintah untuk riset. Walaupun pada tahun 2010 pemerintah Indonesia telah mengalokasikan dana sejumlah 1,9 triliun rupiah (sekitar $205 juta) untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ternyata dana ini hanya 0,85 dari pendapatan domestik bruto (PDB) per tahun. Jika dibandingkan dengan dana riset di Cina yang berjumlah 2%, Jepang yang berjumlah 3,4%, dan Korea Selatan 4,04% dari PDB, maka bisa disimpulkan bahwa Indonesia cukup tertinggal jauh.
Selain itu, kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi pada bidang sektor produksi di Indonesia juga masih rendah. Hal ini dapat terlihat dari kurangnya efisiensi, rendahnya produktivitas, dan minimnya kandungan teknologi dalam barang ekspor. Ekspor produk manufaktur didominasi oleh produk dengan teknologi rendah sebanyak 60%.
Berdasarkan beberapa fakta yang telah disebutkan, dapat disimpulkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia masih sangat rendah bahkan bisa dibilang tertinggal jika dibandingkan negara-negara lain. Hendaknya, kita terus meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan negara kita.
Daerah Tertinggal Dari Kemdikbud Tahun 2016
( Prov. Papua : Kab. Jayawijaya )
Lambang Kabupaten Jayawijaya.png
Lambang Kabupaten Jayawijaya
Kabupaten Jayawijaya adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Wamena yang terletak di Lembah Baliem. Lembah Baliem lebih terkenal sehingga banyak orang menyebut Lembah Baliem identik dengan Jayawijaya atau Wamena. Dalam literatur asing Lembah Baliem juga sering disebut sebagai Lembah Agung.
Batas wilayah
Utara   Kabupaten Mamberamo Tengah dan Kabupaten Yalimo
Selatan            Kabupaten Yahukimo
Barat   Kabupaten Lanny Jaya dan Kabupaten Tolikara
Timur   Kabupaten Pegunungan Bintang

Sejarah
Sejarah Kabupaten Jayawijaya sangat berhubungan erat dengan sejarah perkembangan gereja di wilayah ini, karena daerah ini adalah daerah terisolasi dari dunia luar, tetapi sejak tahun 1950-an misionaris mulai berdatangan dan mulai melakukan penginjilan di daerah ini.
Lembah Baliem ditemukan secara tidak sengaja, ketika Richard Archbold, ketua tim ekspedisi yang disponsori oleh American Museum of Natural History melihat adanya lembah hijau luas dari kaca jendela pesawat pada tanggal 23 Juni 1938. Penglihatan tidak sengaja ini adalah awal dari terbukanya isolasi Lembah Baliem dari dunia luar.
Tim ekspedisi yang sama di bawah pimpinan Kapten Teerink dan Letnan Van Areken mendarat di Danau Habema. Dari sana mereka berjalan menuju arah Lembah Baliem melalui Lembah Ibele dan mereka mendirikan basecamp di Lembah Baliem.
Pada tanggal 20 April 1954, sejumlah missionaris dari Amerika Serikat, termasuk di dalamnya Dr. Myron Bromley, tiba di Lembah Baliem. Tim misionaris ini menggunakan pesawat kecil yang mendarat di Sungai Baliem, tepatnya di Desa Minimo dengan tugas utama memperkenalkan agama Nasrani ke Orang Dani di Lembah Baliem. Stasiun Misionaris Pertama didirikan di Hitigima. Selama 7 (tujuh) bulan mereka mendirikan landasan pesawat terbang pertama. Beberapa waktu kemudian misionaris menemukan sebuah areal yang ideal untuk dijadikan landasan pendaratan pesawat udara. Areal landasan pesawat terbang itu terletak berbatasan dengan daerah Suku Mukoko dan di areal inilah mulai dibangun landasan terbang yang kemudian berkembang menjadi landasan terbang Wamena saat ini.
Pada tahun 1958 Pemerintah Belanda mulai kekuasaannya di Lembah Baliem, dengan mendirikan pos pemerintahannya di sekitar areal landasan terbang, namun kehadiran Belanda di Lembah Baliem tidak lama, karena melalui proses panjang diawali dengan ditandatanganinya dokumen Pepera pada tahun 1969, Irian Barat kembali ke Pemerintah Republik Indonesia, sehingga Pemerintah Belanda segera meninggalkan Irian Barat (Papua).

Kabupaten Jayawijaya dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969, tentang pembentukan Provinsi Otonom Irian Barat dan Kabupaten-Kabupaten Otonom di Provinsi Irian Barat.[6] Berdasarkan pada Undang-undang tersebut, Kabupaten Jayawijaya terletak pada garis meridian 137°12'-141°00' Bujur Timur dan 3°2'-5°12' Lintang Selatan yang memiliki daratan seluas 52.916 km², merupakan satu-satunya Kabupaten di Provinsi Irian Barat (pada saat itu) yang wilayahnya tidak bersentuhan dengan bibir pantai.
Pemekaran
Mengingat luasnya wilayah ini, Pemerintah Pusat berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya mulai mengupayakan pemekaran wilayah. Dimulai dengan pemekaran desa, pemekaran kecamatan dan pemekaran kabupaten. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 dengan diberlakukannya Otonomi Khusus di Papua, maka khusus di Provinsi Papua (dan kemudian juga di Provinsi Papua Barat), istilah kecamatan diganti menjadi distrik dan desa menjadi kampung.
Pemekaran Kabupaten dilakukan mulai tahun 2002 melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 dengan membentuk tiga kabupaten baru yaitu Kabupaten Tolikara dengan ibu kota Karubaga, Kabupaten Pegunungan Bintang dengan ibu kota Oksibil dan Kabupaten Yahukimo dengan ibu kota Dekai. Sementara Kabupaten Jayawijaya sebagai kabupaten induk tetap beribu kota di Wamena di Lembah Balim.
Pemekaran kabupaten kedua adalah pada tahun 2008, yaitu pemekaran dari wilayah Kabupaten Jayawijaya dan sebagian wilayah kabupaten pemekaran pertama. Dimekarkan empat kabupaten baru yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri RI pada tanggal 12 Juni 2008 di Wamena. Keempat kabupaten yang baru dimekarkan itu masing-masing berdasarkan:
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2008 tentang pemekaran Kabupaten Mamberamo Tengah dengan ibu kota Kobakma, meliputi Distrik Kobakma, Kelila, Eragayam, Megambilis dan Ilugwa. Batas-batas wilayah Kabupaten Mamberamo Tengah adalah sebelah utara berbatasan dengan Distrik Membramo Hulu (Kabupaten Mamberamo Raya). Sebelah timur berbatasan dengan Distrik Elelim dan Abenaho (Kabupaten Yalimo). Sebelah selatan berbatasan dengan Distrik Wolo dan Bolakme Kabupaten Jayawijaya, sebelah barat berbatasan dengan Distrik Bokondini dan Kembu (Kabupaten Tolikara).
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2008 tentang pemekaran Kabupaten Yalimo, dengan ibu kota Elelim, meliputi Distrik Elelim, Apalapsili, Abenaho, Benawa dan Welarek. Dengan batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan ... (?). Sebelah timur dengan ... (?). Sebelah selatan berbatasan dengan Distrik Walelagama dan Kurulu (Kabupaten Jayawijaya), sebelah barat berbatasan dengan Distrik Kobakma dan Megambilis (Kabupaten Mamberamo Tengah).
Undang-undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang pemekaran Kabupaten Lanny Jaya, dengan ibu kota Tiom, meliputi Distrik Tiom, Pirime, Makki, Gamelia, Dimba, Melagineri, Balingga, Tiomneri, Kuyawage dan Poga. Dengan batas-batas wilayah: sebelah utara berbatasan dengan Distrik Kanggime, Karubaga dan Goyage (Kabupaten Tolikara) serta Distrik Kelila (Kabupaten Mamberamo Tengah). Sebelah timur berbatasan dengan Distrik Assologaima (Kabupaten Jayawijaya). Sebelah selatan berbatasan dengan Distrik Mbua, Yigi, Mugi, Mapenduma dan Geselama (Kabupaten Nduga), sebelah barat berbatasan dengan Distrik Ilaga (Kabupaten Puncak) dan Distrik Ilu (Kabupaten Puncak Jaya).
Undang-Undang Nomor 6 tahun 2008 tentang pemekaran wilayah Kabupaten Nduga. Dengan ibu kota Kenyam. Meliputi Distrik Kenyam, Mapenduma, Yigi, Wosak, Geselma, Mugi, Mbua dan Gearek. Batas wilayah Nduga meliputi sebelah utara berbatasan dengan Distrik Kuyawage, Balingga, Pirime dan Makki (Kabupaten Lanny Jaya). Sebelah timur berbatasan dengan Distrik Pelebaga dan Wamena (Kabupaten Jayawijaya). Sebelah selatan berbatasan dengan Distrik Sawaerma (Kabupaten Asmat), sebelah barat berbatasan dengan Distrik Jila (Kabupaten Mimika).
Daerah yang akan dimekarkan dari Kabupaten Jayawijaya adalah membentuk satu kota/kotamadya yaitu Kota Lembah Baliem
Topografi dan Iklim
Kabupaten Jayawijaya berada di hamparan Lembah Baliem, sebuah lembah aluvial yang terbentang pada areal ketinggian 1500–2000 m di atas permukaan laut. Temperatur udara bervariasi antara 14,5 derajat Celcius sampai dengan 24,5 derajat Celcius. Dalam setahun rata-rata curah hujan adalah 1.900 mm dan dalam sebulan terdapat kurang lebih 16 hari hujan. Musim kemarau dan musim penghujan sulit dibedakan. Berdasarkan data, bulan Maret adalah bulan dengan curah hujan terbesar, sedangkan curah hujan terendah ditemukan pada bulan Juli.
Lembah Baliem dikelilingi oleh Pegunungan Jayawijaya yang terkenal karena puncak-puncak salju abadinya, antara lain: Puncak Trikora (4.750 m), Puncak Mandala (4.700 m) dan Puncak Yamin (4.595 m). Pegunungan ini amat menarik wisatawan dan peneliti Ilmu Pengetahuan Alam karena puncaknya yang selalu ditutupi salju walaupun berada di kawasan tropis. Lereng pegunungan yang terjal dan lembah sungai yang sempit dan curam menjadi ciri khas pegunungan ini. Cekungan lembah sungai yang cukup luas terdapat hanya di Lembah Baliem Barat dan Lembah Baliem Timur (Wamena).
Vegetasi alam hutan tropis basah di dataran rendah memberi peluang pada hutan iklim sedang berkembang cepat di lembah ini. Ekosistem hutan pegunungan berkembang di daerah ketinggian antara 2.000–2.500 m di atas permukaan laut.
Demografi dan Budaya
Orang Dani di lembah Baliem biasa disebut sebagai "Orang Dani Lembah". Rata-rata kenaikan populasi orang Dani sangat rendah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, salah satu penyebabnya adalah keengganan pada ibu untuk mempunyai anak lebih daripada dua yang menyebabkan rendahnya populasi orang Dani di Lembah Baliem. Sikap berpantang pada ibu selama masih ada anak yang masih disusui, membuat jarak kelahiran menjadi jarang. Hal ini selain tentu saja karena adat istiadat mereka, mendorong terjadinya poligami. Poligami terjadi terutama pada laki-laki yang kaya, mempunyai banyak babi. Babi merupakan mas kawin utama yang diberikan laki-laki kepada keluarga wanita. Selain sebagai mas kawin, babi juga digunaklan sebagai lambang kegembiraan maupun kedukaan. Babi juga menjadi alat pembayaran denda terhadap berbagai jenis pelanggaraan adat. Dalam pesta adat besar babi tidak pernah terlupakan bahkan menjadi bahan konsumsi utama.
Sebelum tahun 1954, penduduk Kabupaten Jayawijaya merupakan masyarakat yang homogen dan hidup berkelompok menurut wilayah adat, sosial dan konfederasi suku masing-masing. Pada saat sekarang ini penduduk Jayawijaya sudah heterogen yang datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang sosial, budaya dan agama yang berbeda namun hidup berbaur dan saling menghormati.
Sosial ekonomi
Mata pencaharian utama masyarakat Jayawijaya adalah bertani, dengan sistem pertanian tradisional. Makanan pokok masyarakat asli Jayawijaya adalah ubi jalar, keladi dan jagung sehingga pada areal pertanian mereka dipenuhi dengan jenis tanaman makanan pokok ini.
Pemerintah Kabupaten Jayawijaya berusaha memperkenalkan jenis tanaman lainnya seperti berbagai jenis sayuran (kol, sawi, wortel, buncis, kentang, bunga kol, daun bawang dan sebagainya) yang kini berkembang sebagai barang dagangan yang dikirim ke luar daerah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
Lembah Baliem adalah areal luas yang sangat subur sehingga cocok untuk berbagai jenis komoditi pertanian yang dikembangkan tanpa pupuk kimia. Padi sawah juga mulai berkembang di daerah ini kerena penduduk Dani sudah mengenal cara bertani padi sawah. Begitupun komoditas perkebunan lainnya kini dikembangkan adalah kopi Arabika.
Transportasi
Transportasi Kabupaten Jayawijaya hingga saat ini masih mengandalkan perhubungan udara, trayek komersil Wamena-Jayapura yang (pada tahun 2011) dilayani oleh dua maskapai penerbangan yaitu Trigana dan Nusantara Air Charter. Dahulu trayek ini pernah dilayani oleh antara lain oleh Merpati Nusantara, Manunggal Air, dan Aviastar. Trayek Wamena-Biak maupun Wamena-Merauke biasanya dilayani oleh penerbangan TNI AURI dengan pesawat Hercules C130 nya.
Semua jenis barang, baik barang kebutuhan pokok masyarakat, bahan bangunan seperti semen, besi beton, kendaraan seperti mobil, truk, bus hingga alat berat seperti buldozer maupun excavator serta kebutuhan bahan bakar minyak (bensin dan solar) diangkut ke Wamena menggunakan pesawat terbang.
Sedangkan transportasi darat yang menghubungkan Wamena dengan empat puluh distrik (hasil pemekaran distrik tahun 2011) di kabupaten Jayawijaya, sudah dapat dijangkau dengan kendaraan beroda empat atau setidaknya dengan kendaraan roda dua. Jalan darat menghubungkan Wamena dengan ibu kota kabupaten hasil pemekaran yaitu ke Tiom (kabupaten Kabupaten Lanny Jaya), Karubaga (Kabupaten Tolikara), Elelim (Kabupaten Yalimo). Jalan darat hingga ke Distrik Kurima di Kabupaten Yahukimo juga sudah ada, namun kendala longsor yang selalu terjadi di Sungai Yetni membuat bagian jalan ini tidak selalu dapat dilalui dengan kendaraat beroda empat.
Sebuah ruas jalan yang diharapkan dapat menghubungkan Wamena dengan Kenyam (Kabupaten Nduga) sedang dibangun, namun karena jalan ini melintas dalam kawasan Taman Nasional Lorentz, untuk sementara pembangunan jalan ini sedang ditunda menunggu kajian lebih lanjut.
Pemekaran daerah
Upaya pemerintah Kabupaten Jayawijaya untuk melakukan pemekaran Kota Madya Lembah Baliem serta melakukan pergeseran Kabupaten Jayawijaya ke wilayah Muliama telah mendapatkan restu dari pemerintah pusat. Sedangkan usulan pemekaran Kabupaten Okika masih memerlukan kajian.
Perkembangan TI
Layanan 4G Telkomsel Tembus Kabupaten Jayawijaya
HarianPapua.com – Demi memperluas jangkauan jaringan hingga pedalaman Papua pihak Telkomsel menghadirkan layanan 4G di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua.
“Telkomsel hadirkan 4G LTE di Wamena sejak 5 Agustus 2016, ini untuk menjawab kebutuhan data masyarakat Wamena dan tentunya untuk membantu perkembangan daerah,” kata GM Sales Telkomsel Regional Papua Maluku Anandoz Bangsawan kepada Inilahcom, Kamis (11/8).
Peluncuran program jaringan 4G di Kabupaten Jayawijaya dilakukan bertepatan dengan perayaan Festival Lembah Baliem yang digelar sejak tanggal 8 hingga 10 Agustus kemarin.
“Kami bangga 4G LTE telah hadir di Wamena, apalagi momentnya pas dengan Festival Budaya Lembah Baliem yang digelar 8-10 Agustus, signal 4G kami sampai ke lokasi event di Distrik Walesi sehingga bisa digunakan oleh para wisatawan untuk berbagi informasi melalui internet tentang event ini,” katanya.

Jaringan 4G Telkomsel di Wamena sendiri didukung dengan 1 BTS 4G yang mana sebelumnya telah di dukung 22 BTS 2G dan 14 BTS 3G.
Sumber: Harianpapua.com

Pemda Dorong Raperda Pemberian Insentif dan Kemudahan Investor

 

WAMENA (HPP)- Guna memberikan kemudahan-kemudahan bagi para investor yang akan melakukan penanaman modal usaha di Kabupaten Jayawijaya, Pemda Jayawijaya berinisiatif untuk menyusun rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang pemberian insentif dan pemberian kemudahan penanaman modal di Kabupaten Jayawijaya bagi para investor.

Rapat pembahasan Raperda ini berlangsung, Jumat (12/8), diruang rapat Bappeda Jayawijaya dan dihadiri oleh para pimpinan SKPD terkait. “Rapat ini merupakan finalisasi rancangan peraturan daerah tentang pemberian Insentif dan kemudahan penenaman modal di Kabupaten Jayawijaya.” Ujar Kepala Bappeda Petrus Mahuse.

Jadi tujuan dari pembentukan perda ini adalah bagaimana kedepan memudahkan pemerintah daerah dengan adanya satu organisasi perangkat daerah yang menangani tentang penanaman modal.” Kata Kepala Bappeda Jayawijaya, Petrus Mahuse,usai memimpin rapat.

Menurutnya Perda ini nantinya akan membantu Pemerintah menarik investor untuk melakukan penanaman modal, mulai dari bidang pertanian, pariwisata, industry kreatif,bidang energy terbaru, pendidikan, kesehatan, maupun bidang pertanian, peternakan dan lainnya. Raperda ini sendiri disusun mengacu pada undang-undang nomor 5 tahun 2007 dan peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 2008. “Apabila nanti disahkan ini mungkin akan menjadi satu-satunya Perda di Provinsi Papua yang mengatur tentang insentif dan kemudahan penanaman modal,” ungkapnya.
Lanjutnya, karena pertimbangan pemerintah daerah Kabupaten Jayawijaya kedepan bisa saja ada banyak para investor baik dari negeri maupun luar negeri yang melirik potensi-potensi yang ada di Kabupaten Jayawijaya. Walaupun mungkin bukan dalam bentuk skala besar tapi dalam bentuk usaha-usaha jenis kecil dan menengah.

Pemberian kemudahan dalam Perda ini yakni semacam pemberian kemudahan dalam bentuk pengurangan Pajak, pengurangan Retribusi, kemudahan perijinan, dan kemudahan-kemudahan lainnya. “Jadi ini masih dalam bentuk rancangan yang rencananya tahun ini juga akan kita coba dorong ke DPR untuk dibahas, dan kita berharap mendapat persetujuan untuk kita tetapkan ini menjadi peraturan daerah, “tandasnya.
Sumber :