A. FOBIA
Ketakutan (fobia) adalah kecemasan yang luar biasa, terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan eksternal tertentu. Fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena.
Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya.
Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap Fobia sulit
dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan
bulanan oleh teman sekitarnya. Ada perbedaan "bahasa" antara pengamat
fobia dengan seorang pengidap fobia.
Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara dibayangan mental seorang pengidap fobia subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan.
Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara dibayangan mental seorang pengidap fobia subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan.
Dalam
keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa
takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek
Fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi
adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang
disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam
mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat
pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrim seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya.
Seseorang
yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan
emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal tersebut dikarenakan orang
tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis) yang tepat.
Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber Fobia secara
otomatis akan merasa cemas dan agar "nyaman" maka cara yang paling mudah
dan cepat adalah dengan cara "mundur kembali"/regresi kepada keadaan
fiksasi. Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi
menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan
kembali ke bawah sadar (represi). Pola respon negatif tersebut dapat
berkembang terhadap subjek subjek fobia lainnya dan intensitasnya
semakin meningkat. Walaupun terlihat sepele, “pola” respon tersebut akan
dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya
seseorang penderita fobia menjadi semakin rentan dan semakin tidak
produktif. Fobia merupakan salah satu dari jenis jenis hambatan sukses
lainnya
Penyakit ketakutan (fobia)
adalah kecemasan yang luar biasa, terus menerus dan tidak realistis,
sebagai respon terhadap keadaan eksternal tertentu. penderita biasanya
menghindari keadaan-keadaan yang bisa memicu terjadinya kecemasan atau
menjalaninya dengan penuh tekanan.
Penderita menyadari bahwa kecemasan yang timbul adalah berlebihan dan karena itu mereka sadar bahwa mereka memiliki masalah.
Berikut ini adalah macam-macam fobia :
1. Agorafobia
arti
harfiah dari agorafobia adalah takut akan keramaian atau tempat
terbuka. secara lebih khusus agorafobia menunjukkan ketakutan akan
terperangkap, tanpa cara yang mudah untuk terlepas bila kecemasan
menyerang. keadaan-keadaan yang sulit bagi penderita agoraphobia adalah
antri di bank atau pasar swalayan, duduk di tengah-tengah bioskop atau
ruang kelas dan mengendarai bis atau pesawat terbang. beberapa orang
menderita agorafobia setelah mengalami serangan panik pada salah satu
keadaan tersebut. yang lainnya hanya merasakan tidak nyaman dan tidak
pernah mengalami serangan panik.
Agorafobia sering mempengaruhi kegiatan sehari-hari, kadang sangat berat sehingga penderita hanya diam di dalam rumah.
Pengobatan terbaik untuk agorafobia adalah terapi pemaparan,
dengan bantuan seorang ahli, penderita mencari, mengendalikan dan tetap
berhubungan dengan apa yang ditakutinya sampai kecemasannya secara
perlahan berkurang karena sudah terbiasa dengan keadaan tersebut (proses
ini disebut habituasi). psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami pertentangan psikis yang melatarbelakangi terjadinya kecemasan.
2. fobia spesifik
Fobia
spesifik merupakan penyakit kecemasan yang paling sering terjadi.
beberapa fobia spesifik (misalnya takut binatang, kegelapan atau orang
asing) mulai timbul pada masa kanak-kanak. banyak fobia yang menghilang
setelah penderita beranjak dewasa. fobia lainnya (misalnya takut hewan
pengerat, serangga, badai, air, ketinggian, terbang atau tempat
tertutup) baru timbul di kemudian hari. 5% penduduk menderita fobia
tingkat tertentu pada darah, suntikan atau cedera; dan penderita bisa
mengalami pingsan, yang tidak terjadi pada fobia maupun penyakit
kecemasan lainnya.
sebaliknya, banyak pendeita penyakit kecemasan yang mengalami hiperventilasi, yang menimbulkan perasaan akan pingsan, tetapi mereka tidak pernah benar-benar pingsan.
penderita seringkali dapat mengatasi fobia spesifik dengan cara menghindari benda atau keadaan yang ditakutinya. terapi pemaparan
merupakan sejenis terapi perilaku dimana penderita secara bertahap
dihadapkan kepada benda atau keadaan yang ditakutinya. terapi ini
merupakan pengobatan terbaik untuk fobia spesifik.
psikoterapi dilakukan agar penderita memahami pertentangan psikis yang mungkin melatarbelakangi terjadinya fobia spesifik.
3. Fobia Sosial
Kemampuan
seseorang untuk menjalin hubungan yang serasi dengan yang lainnya
melibatkan berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan keluarga,
pendidikan, pekerjaan, hobi, kencan dan perjodohan. kecemasan tertentu
dalam situasi sosial adalah normal, tetapi penderita fobia sosial
merasakan kecemasan yang berlebihan sehingga mereka menghindari situasi
sosial atau menghadapinya dengan penuh tekanan. penelitian terbaru
menunjukkan bahwa 13% penduduk pernah mengalami fobia
sosial. keadaan-keadaan yang sering memicu terjadi kecemasan pada
penderita fobia sosial adalah:
- berbicara di depan umum
- tampil di depan umum (main drama atau main musik)
- makan di depan orang lain
- menandatangani dokumen sebelum bersaksi
- menggunakan kamar mandi umum. penderita merasa penampilan atau aksi mereka tidak tepat.
Mereka
seringkali khawatir bahwa kecemasannya akan tampak, sehingga mereka
berkeringat, pipinya kemerahan, muntah, gemetaran atau suaranya
bergetar; jalan pikirannya terganggu atau tidak mampu menemukan
kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan maksud mereka.
Jenis
fobia sosial yang lebih umum ditandai dengan kecemasan pada hampir
seluruh situasi sosial. penderita fobia sosial menyeluruh biasanya
merasa bahwa penampilannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, mereka
akan merasa terhina atau dipermalukan.
Beberapa
orang memiliki rasa malu yang wajar dan menunjukkan malu--malu pada
masa kanak-kanak yang di kemudian hari berkembang menjadi fobia sosial.
yang lainnya mengalami kecemasan dalam situasi sosial pertama kali pada
masa pubertas.
Fobia sosial sering menetap jika tidak diobati, sehingga penderita menghindari aktivitas yang sesungguhnya ingin mereka ikuti. terapi pemaparan merupakan sejenis terapi perilaku yang efektif untuk mengatasi fobia sosial.
Psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami pertentangan batin yang mungkin melatarbelakangi terjadinya fobia sosial.
Beberapa istilah sehubungan dengan fobia :
- afrophobia — ketakutan akan orang Afrika atau budaya Afrika.
- caucasophobia — ketakutan akan orang dari ras kaukasus.
- hydrophobia — ketakutan akan air.
- photophobia — ketakutan akan cahaya.
- antlophobia — takut akan banjir.
- cenophobia — takut akan ruangan yang kosong
Penyakit Obsesif-Kompulsif ditandai dengan adanya obsesi dan kompulsi.
Obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau menakutkan.
Kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi.
Obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau menakutkan.
Kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi.
PenyakiT
obsesif-kompulsif berbeda dengan kelainan kepribadian
obsesif-kompulsif.Penyakit ini terjadi pada 2,3% dewasa. Dan Penyebabnya
tidak diketahui.
Obsesi yang umum
bisa berupa kegelisahan mengenai pencemaran, keraguan, kehilangan dan
penyerangan. Penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual, yaitu
tindakan berulang, dengan maksud tertentu dan disengaja. Ritual
dilakukan untuk mengendalikan suatu obsesi dan bisa berupa:
- Mencuci atau membersihkan supaya terbebas dari pencemaran
- Memeriksa untuk menghilangkan keraguan
- Menimbun untuk mencegah kehilangan
- Menghinidari orang yang mungkin menjadi obyek penyerangan.
Sebagian
besar ritual bisa dilihat langsung, seperti mencuci tangan
berulang-ulang atau memeriksa pintu berulang-ulang untuk memastikan
bahwa pintu sudah dikunci. Ritual lainnya merupakan kegiatan batin,
misalnya menghitung atau membuat pernyataan berulang untuk menghilangkan
bahaya.
Penderita bisa terobsesi
oleh segala hal dan ritual yang dilakukan tidak selalu secara logis
berhubungan dengan rasa tidak nyaman yang akan berkurang jika penderita
menjalankan ritual tersebut. Penderita yang merasa khawatir tentang
pencemaran, rasa tidak nyamannya akan berkurang jika dia memasukkan
tangannya ke dalam saku celananya. Karena itu setiap obsesi tentang
pencemaran timbul, maka dia akan berulang-ulang memasukkan tangannya ke
dalam saku celananya.
Sebagian
besar penderita menyadari bahwa obsesinya tidak mencerminkan resiko yang
nyata.Mereka menyadari bahwa perliku fisik dan mentalnya terlalu
berlebihan bahkan cenderung aneh.Penyakit obsesif-kompulsif berbeda
dengan penyakit psikosa, karena pada psikosa penderitanya kehilangan
kontak dengan kenyataan. Penderita merasa takut dipermalukan sehingga
mereka melakukan ritualnya secara sembunyi-sembunyi. Dan sekitar
sepertiga penderita mengalami depresi ketika penyakitnya terdiagnosis.
1) Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan penuturan penderita mengenai perilakunya.
2) Pemeriksaan
fisik dilakukan untuk menyingkirkan penyebab fisik dan penilaian psikis
dilakukan untuk menyingkirkan kelainan jiwa lainnya.
3) Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan wawancara berdasarkan kuosioner Skala Obsesif-Kompulsif.
Untuk
pengobatannya yakni dengan terapi pemaparan yaitu sejenis terapi
perilaku yang bisa membantu mengatasi penyakit ini. Penderita dihadapkan
kepada situasi atau orang yang memicu timbulnya obsesi, ritual maupun
rasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman atau kecemasan secara bertahap akan
berkurang jika penderita mencegah dirinya melakukan ritual selama
dihadapkan kepada rangsangan tersebut. Dengan cara ini, penderita
memahami bahwa untuk menghilangkan rasa tidak nyaman tidak perlu
melakukan ritual.
Obat-obatan yang efektif untuk mengatasi penyakit obsesif-kompulsif adalah klomipramin, fluoksetin dan fluvoksamin.
Psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami pertentangan batin yang
mungkin melatarbelakangi terjadinya penyakit ini. Biasanya kombinasi
dari psikoterapi dan obat-obatan merupakan pengobatan yang terbaik bagi
penyakit obsesif-kompulsif.
C. DEPRESI
Seseorang
dikatakan depresi apabila aktifitas fisiknya menurun, berpikir sangat
lamban dan diikuti oleh perubahan suasana hati. Sesorang yang mengalami
depresi memiliki pemikiran yang negatif terhadap dirinya sendiri,
terhadap masa depan, dan ingatan mereka menjadi lemah, serta kesulitan
dalam mengambil keputusan.
Menurut
Suryantha Chandra (2002 : 8), depresi adalah suatu bentuk gangguan
suasana hati yang mempengaruhi kepribadian seseorang. Depresi juga
merupakan perasaan sinonim dengan perasaan sedih, murung, kesal, tidak
bahagia dan menderita. Individu umumnya menggunakan istilah depresi
untuk merujuk pada keadaan atau suasana yang melibatkan kesedihan, rasa
kesal, tidak mempunyai harga diri, dan tidak bertenaga. Individu yang
menderita depresi aktifitas fisiknya menurun, berpikir sangat lambat,
kepercayaan diri menurun, semangat dan minat hilang, kelelahan yang
sangat, insomnia, atau gangguan fisik seperti sakit kepala, gangguan
pencernaan, rasa sesak didada, hingga keinginan untuk bunuh diri (John
& James, 1990 : 2).
Salah satu
gejala depresi adalah pikiran dan gerakan motorik yang serba lamban
(retardasi psikomotor), fungsi kognitif (aktifitas mental emosional
untuk belajar, mengingat, merencanakan, mencipta, dan sebagainya)
terganggu. Jadi depresi mencakup dua hal kesadaran yaitu menurunnya
aktifitas dan perubahan suasana hati. Perubahan perilaku orang yang
depresi berbeda - beda dari yang ringan sampai pada kesulitan -
kesulitan yang mendalam disertai dengan tangisan, ekspresi kesedihan,
tubuh lunglai dan gaya gerak lambat (A. Supratiknya, 1995 : 67).
Menurut Maramis
(1998 : 107), depresi adalah suatu jenis keadaan perasaan atau emosi
dengan komponen psikologis seperti rasa sedih, rasa tidak berguna,
gagal, kehilangan, putus asa, dan penyesalan yang patologis. Depresi
juga disertai dengan komponen somatik seperti anorexia, konstipasi,
tekanan darah dan nadi menurun. Dengan kondisi yang demikian, depresi
dapat menyebabkan individu tidak mampu lagi berfungsi secara wajar dalam
hidupnya.
Depresi pada
lanjut usia kemungkinan akan sangat berkaitan dengan proses penuaan yang
terjadi pada diri lanjut usia, pada fase tersebut sering terjadi
perubahan fisik dan mental yang mengarah ke penurunan fungsi. Proses
menjadi tua menghadapkan lanjut usia pada salah satu tugas yang paling
sulit dalam perkembangan hidup manusia. Hurlock (1992 : 387 )
mengemukakan beberapa masalah yang umumnya unik pada lanjut usia, yaitu :
- Keadaan fisik lemah dan tidak berdaya, sehingga bergantung pada orang lain.
- Status ekonominya sangat terancam, sehingga cukup beralasan untuk melakukan berbagai perubahan besar dalam pola hidupnya.
- Menentukan kondisi fisik yang sesuai dengan perubahan status ekonominya.
- Mencari teman untuk mengganti pasangan yang meninggal atau cacat.
- Mengembangkan kegiatan untuk mengisi waktu luang yang semakin bertambah.
- Belajar untuk memperlakukan anak – anak yang sudah besar sebagai orang dewasa.
- Mulai terlibat dalam kegiatan masyarakat yang secara khusus direncanakan untuk orang dewasa.
- Mulai merasakan kebahagiaan dari kegiatan yang sesuai untuk orang berusia lanjut dan memiliki kemampuan untuk menggantikan kegiatan lama yang berat dengan yang lebih cocok.
- Menjadi korban atau dimanfaatkan oleh para penjual obat “buaya darat”, dan kriminalitas karena tidak sanggup lagi mempertahankan diri.
Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa depresi pada lanjut usia adalah suatu keadaan
dimana individu mengalami gangguan psikologis yang berpengaruh terhadap
suasana hati, cara berpikir, fungsi tubuh dan perilakunya, seperti rasa
sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, insomnia, putus asa dan merasa
tidak berharga. Jadi keadaan depresi dapat diketahui dari gejala dan
tanda yang penting yang mengganggu kewajaran sikap dan tindakan individu
atau menyebabkan kesedihan yang mendalam.
Beck (dalam
Nanik Afida dkk, 2000 :181) menjelaskan depresi memiliki beberapa aspek
emosional, kognitif, motivasional, dan fisik.
a. Aspek yang dimanifestasikan secara emosional, yaitu :
1) Perasaan
kesal atau patah hati (dejected mood) ; perasaan ini menggambarkan
keadaan sedih, bosan dan kesepian yang dialami individu. Keadaan ini
bervariasi dari kesedihan sesaat hingga kesedihan yang terus - menerus.
2) Perasaan
negatif terhadap diri sendiri ; perasaan ini mungkin berhubungan dengan
perasaan sedih yang dijelaskan di atas, hanya bedanya perasaan ini
khusus ditujukan kepada diri sendiri.
3) Hilangnya
rasa puas ; maksudnya ialah kehilangan kepuasan atas apa yang
dilakukan. Perasaan ini dapat terjadi pada setiap kegiatan yang
dilakukan termasuk hubungan psikososial, seperti aktivitas yang menuntut
adanya suatu tanggung jawab.
4) Hilangnya
keterlibatan emosional dalam melakukan pekerjaan atau hubungan dengan
orang lain ; keadaan ini biasanya disertai dengan hilangnya kepuasan
diatas. Hal ini dimanifestasikan dalam aktivitas tertentu, kurangnya
perhatian atau rasa keterlibatan emosi terhadap orang lain.
5) Kecenderungan
untuk menangis diluar kemauan ; gejala ini banyak dialami oleh
penderita depresi, khususnya wanita. Bahkan mereka yang tidak pernah
menangis selama bertahun-tahun dapat bercucuran air mata atau merasa
ingin menangis tetapi tidak dapat menangis.
6) Hilangnya
respon terhadap humor ; dalam hal ini penderita tidak kehilangan
kemampuan untuk mempersepsi lelucon, namun kesulitannya terletak pada
kemampuan penderita untuk merespon humor tersebut dengan cara yang
wajar. Penderita tidak terhibur, tertawa atau puas apabila mendengar
lelucon.
b. Aspek depresi yang dimanifestasikan secara kognitif, yaitu :
1) Rendahnya
evaluasi diri ; hal ini tampak dari bagaimana penderita memandang
dirinya. Biasanya mereka menganggap rendah ciri - ciri yang sebenarnya
penting, seperti kemampuan prestasi, intelegensi, kesehatan, kekuatan,
daya tarik, popularitas, dan sumber keuangannya.
2) Citra tubuh yang terdistorsi ; hal ini lebih sering terjadi pada wanita. Mereka merasa dirinya jelek dan tidak menarik.
3) Harapan yang negatif ; penderita mengharapkan hal - hal yang terburuk dan menolak uasaha terapi yang dilakukan.
4) Menyalahkan
dan mengkritik diri sendiri ; hal ini muncul dalam bentuk anggapan
penderita bahwa dirinya sebagai penyebab segala kesalahan dan cenderung
mengkritik dirinya untuk segala kekurangannya.
5) Keragu-raguan
dalam mengambil keputusan ; ini merupakan karakteristik depresi yang
biasanya menjengkelkan orang lain ataupun diri penderita. Penderita
sulit untuk mengambil keputusan, memilih alternatif yang ada, dan
mengubah keputusan.
c. Aspek
yang dimanifestasikan secara motivasional ; meliputi pengalaman yang
disadari penderita, yaitu tentang usaha, dorongan, dan keinginan. Ciri
utamanya adalah sifat regresif motivasi penderita, penderita tampaknya
menarik diri dari aktifitas yang menuntut adanya suatu tanggung jawab,
inisiatif bertindak atau adanya energi yang kuat.
d. Aspek
depresi yang muncul sebagai gangguan fisik meliputi kehilangan nafsu
makan, gangguan tidur, kehilangan libido, dan kelelahan yang sangat.
Menurut Mendels
(dalam Meyer, 1984 : 159) mengatakan bahwa individu mengalami depresi
jika individu mengalami gajala-gejala rasa sedih, pesimis, membenci diri
sendiri, kehilangan energi, kehilangan konsentrasi, dan kehilangan
motivasi. Selain itu individu juga kehilangan nafsu makan, berat badan
menurun, insomnia, kehilangan libido, dan selalu ingin menghindari orang
lain.
Dengan demikian
dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek depresi adalah gejala depresi yang
dapat dimanifestasikan secara emosional, kognitif, motivasional, fisik
dan pencernaan, raut wajah sedih, retardasi, dan agitasi. Gejala yang
dimanifestasikan secara emosional terdiri dari perasaan kesal atau patah
hati, perasaan negatif terhadap dirinya, hilangnya rasa puas, hilangnya
keterlibatan emosional,kecenderungan untuk menangis diluar kemauan, dan
hilangnya respon terhadap humor. Sedangkan gejala yang dimanifestasikan
secara kognitif meliputi sikap menyimpang penderita, baik terhadap
diri, pengalaman, dan masa depannya. Gejala yang dimanifestasikan secara
motivasional meliputi pengalaman yang disadari penderita, yaitu tentang
usaha, dorongan, dan keinginan , sedangkan gejala yang muncul sebagai
gangguan fisik apabila terjadi gangguan saraf otonom dan hipotalamus.
Dalam kehidupan
individu, ada periode - periode kritis yang berpengaruh terhadap
perkembangan individu selanjutnya. Kurangnya perhatian dan kasih sayang
dari figur yang penting bagi individu pada periode kritis akan
mempengaruhi kecenderungan depresi pada masa yang akan datang. Pada saat
individu merespon kembali situasi serupa yaitu kurangnya kasih sayang
dan perhatian, maka individu mempunyai kecenderungan depresi yang lebih
tinggi dibandingkan pada orang yang tidak mengalami keadaan demikian.
Kehidupan
manusia ditandai oleh interaksi individu dengan lingkungannya. Depresi
dapat timbul karena beberapa faktor, baik faktor dari dalam maupun dari
luar individu. Menurut Abraham (dalam Meyer, 1984 : 165), keadaan
depresi didominasi oleh perasaan kehilangan, rasa bersalah dan ada
perasaan ambivalen antara cinta dan benci. Ambivalensi dari depresi ada
dua, yaitu :
a. Marah dan benci terhadap objek cinta yang hilang kerena persepsi tentang dirinya yang ditinggalkan atau ditolak.
b. Rasa bersalah karena keyakinannya bahwa dirinya telah gagal merespon secara tepat dan sesuai terhadap objek cinta yang hilang.
Arienti dam
Bemporad (dalam Meyer, 1984 : 249), menyatakan bahwa depresi sering
terjadi pada orang yang mengalami kehilangan anak - anak. Situasi yang
menyenangkan akan hilang jika ada kehadiran anggota keluarga lain
seperti adik sehingga perhatian ibu terbagi, karena kematian orang tua,
ditinggalkan oleh orang terdekat dengan individu, dan bisa juga
disebabkan oleh larangan yang mendadak terhadap perilaku anak yang sudah
menetap. Individu akan menyerap gaya hidup yang ditujukan untuk meraih
keberhasilan dalam menyenangkan orang yang demikian tersebut. Harapan -
harapan tersebut seringkali melebihi kemampuan individu sehingga terjadi
kegagalan, individu akan mencela dan menyalahkan diri sendiri.
Jadi depresi
terjadi karena hilangnya objek eksternal yang bernilai tinggi bagi
individu tersebut. Kehilangan didefinisikan sebagai kehilangan objek
cinta utama, yaitu sesorang, sesuatu atau aktifitas.
Depresi menurut
teori kognitif disebabkan oleh adanya bentuk-bentuk pemikiran yang
tidak logis. Individu yang depresi cenderung berpikir dengan cara yang
menyimpang dan penyimpangan ini menimbulkan masalah baru dan memperburuk
keadaan yang ada serta meningkatkan perputaran yang memyebabkan
depresi. Hal ini dipertegas oleh Ellis (dalam Meyer, 1984 : 187) yang
mengatakan bahwa cara individu memandang dan berpikir tentang dirinya
sendiri akan menimbulkan gangguan tertentu seperti depresi.
Menurut Ferster ( dalam Meyer, 1984 : 167 ) depresi dapat timbul karena salah satu daridua proses dibawah ini, yaitu :
a. Perubahan
lingkungan seperti anggota keluarga atau kehilangan pekerjaan dapat
membatasi (reinforcement) yang diterima individu. Individu yang
menyandarkan diri pada satu atau dua reinforcement akan cenderung mudah
terserang depresi karena kurangnya reinforcement.
b. Ditinjau
dari perilaku menghindar, depresi muncul pada saat usaha menghindar di
lingkungan menjadi kuat. Dalam kasus ini depresi timbul karena individu
ingin menghindari kecemasan. Jika individu menarik diri dari stimulus
yang menyebabkan kecemasan, maka akan kehilangan dengan kontak
reinforcement sosial, dan akan timbul depresi.
Dari beberapa
uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa depresi terjadi karena
individu kehilangan objek eksternal yang bernilai tinggi bagi individu
tersebut. Kehilangan yang dimaksud adalah kehilangan objek cinta utama,
seperti kehilangan pasangan hidup, anak atau teman. Hal ini menyebabkan
individu tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik, sehingga tidak
menutup kemungkinan individu akan mudah mengalami gangguan depresi.
Menurut Birren (1980 : 629) ada beberapa faktor yang menimbulkan depresi, yaitu :
a. Faktor individu yang meliputi :
1) Faktor biologis seperti genetik, proses menua secara biologis, penyakit fisik tertentu.
2) Faktor
psikologis seperti kepribadian, proses menua secara psikologis. Pada
kepribadian introvert akan berusaha mewujudkan tuntutan dari dalam
dirinya dan keyakinannya, sedangkan kepribadian ekstrovert membentuk
keseimbangan dirinya dengan menyesuaikan keinginan - keinginan dari
orang lain.
b. Faktor kejadian - kejadian hidup yang penting bagi individu
Kehilangan
seseorang ataupun sesuatu dapat menimbulkan depresi. Penyakit fisik
juga berhubungan dengan serangan afeksi karena penyakit merupakan
ancaman terhadap daya tahan individu, terhadap kemampuan kerjanya,
kemampuan meraih apa yang diinginkannya dan merupakan ancaman terhadap
aktifitas motorik dan perasaan sejahtera individu.
c. Faktor lingkungan yang meliputi faktor sosial, faktor budaya, dan faktor lingkungan fisik.
Dari
uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa faktor yang
menyebabkan depresi, diantaranya adalah proses menua secara biologis,
penyakit fisik, kepribadian, kehilangan orang yang dicintai, dan faktor
lingkungan.
D. MANIC DEPRESI
Manic
depresi atau depresi bipolar sebenarnya dianggap sebagai salah satu
jenis terburuk dari depresi yang biasanya orang derita. Ditandai dengan
perubahan tiba-tiba dan ekstrim dalam suasana hati mereka, Maniac
depresi dikatakan disebut seperti itu karena maniak = mania mengacu pada
“up” sambil depresi mengacu pada “down”. Tapi saat ini disebut mood
pergi ke absurditas, dikarenakan kesal bahkan oleh terkecil atau paling
sederhana menipis seperti tidak mendapatkan es krim rasa favorit Anda,
ini tidak mungkin hanya tanda brattiness, namun ketika mendapatkan kesal
kemudian ada makian dan bersumpah pada vendor es krim dan melemparkan
tantrum tidak masuk akal, ini mungkin sudah menjadi awal dari Manic
depression.
Disebut “manik”
atau “up” dalam depresi Manic digambarkan sebagai menjadi-jadi saat
tertentu ketika seseorang menderita depresi Manic mungkin mengalami
periode yang terlalu tinggi, yang terdiri dari tinggi energi, ledakan
tiba-tiba suasana hati gembira, iritabilitas ekstrim, balap pikiran
serta perilaku agresif. Menurut terapi, seseorang menderita depresi
Manic mungkin ledakan dimana ini disebut “periode” manik tiba-tiba
mengalami perubahan suasana hati gembira meninggi tidak hanya sehari, di
benar-benar dapat berlangsung selama satu minggu, bahkan lebih lama
dari itu.
Ketika datang
yang disebut periode “rendah” atau “turun”, seperti namanya
benar-benar dapat membawa seseorang yang menderita depresi Manic mungkin
mengalami gejala yang sangat mirip dengan mereka yang menderita depresi
yang sebenarnya. Orang yang menderita depresi Manic benar-benar dapat
mengalami episode depresi yang menunjukkan keadaan pikiran - perasaan
tidak berharga dan tidak dicintai mungkin mulai merusak pikiran
individu. Berbagai gejala, menunjukkan rasa bersalah, kesedihan ekstrim,
serangan kecemasan, perasaan pesimisme ekstrim dan tidak mengalami
kesenangan. Menurut pakar terapi, individu yang tertekan. secara
konsisten selama lebih dari seminggu resmi dapat didiagnosis sebagai
seseorang yang menderita depresi Manic.
Meskipun
menjadi salah satu dari jenis, yang paling umum belum parah gangguan
depresif, Manic depresi, menurut dokter sebenarnya dapat diobati. Tidak
ada alasan untuk terlalu khawatir tentang hal itu, hanya mengikuti
prosedur yang tepat bahwa terapis akan menginstruksikan Anda untuk
melakukan, mengambil obat yang diresepkan tepat serta dosis yang tepat
untuk membantu Anda (atau teman Anda atau mencintai satu) mengatasi
Manic depresi sebelum menjadi terlambat. Meskipun hasil positif untuk
pasien depresi Manic masih dapat dicapai dari alternatif alam, tepat dan
bantuan lebih kekal dari gejala depresi Manic masih dapat menjadi yang
terbaik diperoleh melalui melihat perilaku kognitif terapis.
Berlawanan
dengan beberapa keyakinan, ketika datang ke perawatan kejiwaan,
psikiater, terapis perilaku kognitif sebaiknya masih yang terbaik untuk
berkonsultasi untuk depresi manik, serta orang-orang yang akan paling
mungkin dapat menyembuhkan depresi Manic.
E. KEPRIBADIAN GANDA
Kepribadian
ganda/ alter ego, adalah kepribadian manusia yang terdiri dari dua atau
lebih yang tumbuh bersama-sama dalam satu badan manusia tersebut.
masa-masa kritis di mana seseorang bisa memiliki kepribadian ganda
adalah masa-masa saat ia mulai mencari jati diri.
Begitu
banyak faktor-faktor yang mempengaruhi mereka dalam mencari jati diri,
di antaranya: tekanan orang tua harus jadi ini itu dll, tekanan
lingkungan, tekanan dari diri sendiri yang ingin menunjukkan bahwa
dirinya hebat, & tekanan untuk diakui. itu sebabnya, jangan pernah
merasa bahagia bila memiliki anak abg yang pendiam!! sangat pendiam!!
karena bisa saja dia menyimpan sesuatu semacam bom waktu. masa-masa abg
adalah masa-masa yang rawan, karena biasanya di masa-masa itulah anak
mulai mencari jati dirinya.
Tekanan
dari keluarga!! adalah faktor paling berpengaruh dalam proses pencarian
jati diri. tekanan yang bertubi-tubi dari keluarga, tidak adanya
pengakuan, selalu disalahkan, dianggap tak bisa apa-apa, diejek, dicaci
maki karena nilai turun, dll membuat “harga diri” seorang anak menjadi
jatuh dan bila anak tersebut tidak kuat, maka anak tersebut bisa
mengidap kepribadian ganda.
Ironisnya,
sebagian besar orang tua di indonesia menganggap sikap mereka yang
kolot itu benar!! dan mereka sama sekali tak mau mengerti perasaan si
anak. sehingga jangan salahkan bila si anak jadi introvert. “jika anda
termasuk orang yang suka curhat kepada diri sendiri dan seolah – olah
selalu mampu menyelesaikan persoalan pribadi sendirian tanpa merasa
butuh orang lain, maka anda termasuk orang berkepribadian ganda.”
Pertanyaanya
adalah apakah orang yang berkepribadian ganda selalu introvert? tidak
juga, banyak juga orang yang berkepribadian ganda yang memiliki sikap
ramah, sangat ramah dibandingkan orang pada umumnya. mereka juga kadang
mudah mengasihi dan bersimpati. tapi jangan sekali-sekali menyakiti
hatinya dan mengkhianatinya, karena sekalinya ia dikhianati, ia bisa
berubah jadi pembunuh kejam. itu sebabnya tak mengherankan jika banyak
pembunuh yang berlatar belakang orang baik-baik di masa lalunya. dan
ternyata di dunia ini banyak sekali orang “gila” atau memiliki gangguan
jiwa, namun mereka tidak sadar. mungkin, jumlah orang yang memiliki
gangguan jiwa di luar rumah sakit jiwa sebenarnya jauh lebih banyak.
setiap manusia memiliki potensi untuk mengalami gangguan jiwa. agak
menyeramkan, tapi berdasarkan banyaknya kejadian-kejadian di sekitar
kita, tak salah bila kita memiliki kesimpulan seperti itu. dari kalangan
orang terkenalpun ternya ada yang mengalami gangguan jiwa. contohnya :
1. John Nash:
ilmuwan dan peraih nobel yg kisah hidupnya di film kan di film
beautiful mind, yang ternyata mengidap penyakit skizofrenia atau
penyakit suka berhalusinasi
2. Virginia Wolf:
seorang penulis terkenal dan langganan mendapatkan penghargaan, namun
mengakhiri hidupnya dengan tragis, yaitu menenggelamkan diri di laut
alias bunuh diri, karena dia merasa hidupnya tak bahagia. setelah
ditelusuri ternyata virginia wolf mengidap penyakit skizofrenik. kisah
hidupnya juga difilmkan di film the hours dg pemeran utama nicole
kidman.
3. Einstein yang ternyata seorang disleksia syndrome.[4]
D. SCHIZOPHRENIA
Schizophrenia
merupakan gangguan psikotik, hampir satu persen penduduk dunia
menderita psikotik dalam hidup mereka. Schizophrenia sering terjadi pada
populasi urban dan kelompok social ekonomi rendah.
Terdapat indikasi yang nyata bahwa schizophrenia adalah sebuah gangguan yang terjadi pada fungsi otak. Ditulis dalam buku The Broken Brain: The Biological Revolution in Psychiatry bahwa
bukti-bukti terkini tentang serangan schizophrenia merupakan suatu hal
yang melibatkan banyak factor. Faktor ini meliputi [erubahan struktur
fisik otak, perubahan struktur sel kimia otak, dan factor genetic.
Schizophrenia
terbentuk secara bertahap, di mana keluarga maupun penderita tidak
menyadari ada sesuatu yang tidak beres dalam otaknya dalam jangka waktu
lama. Kerusakan perlahan ini yang akhirnya menjadi schizophrenia yang
tersembunyi dan berbahaya. Gejala yang timbul perlahan ini mungkin saja
menjadi schizophrenia akut; gangguan yang singkat, kuat, meliputi
halusinasi, delusi (penyesatan pikiran), dan kegagalan berpikir.
Kadang,
schizophrenia muncul secara tiba-tiba. Perubahan perilaku dramatis
terjadi dalam waktu beberapa hari atau minggu. Beberapa penderita
mengalami gangguan seumur hidup, tapi tak sedikit yang bisa hidup normal
kembali. Kebanyakan didapati bahwa mereka dikucilkan, menderita depresi
hebat, dan tidak mampu berfungsi layaknya orang normal dalam
lingkungannya.
Pada
beberapa kasus, serangan dapat meningkat menjadi schizophrenia kronis.
Penderita menjadi buas, kehilangan karakter sebagai manusia dalam
kehidupan social, tidak memiliki motivasi, depresi, dan tidak memiliki
kepekaan tentang perasaannya sendiri.
Halusinasi
selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak mampu
menginterpretasikan dan merespon pesan/rangsangan yang datang. Penderita
mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya
tidak ada.
Penderita
juga mengalami delusi, yaitu kepercayaan yang kuat dalam
menginterpretasikan sesuatu yang kadang-kadang berlawanan dengan
kenyataan. Misalnya, pada penderita, lampu trafik di jalan raya yang
berwarna merah kuning hijau dianggap sebagai isyarat dari luar angkasa.
Beberapa penderita berubah menjadi paranoid. Mereka selalu merasa sedang
diamati, diintai, atau hendak diserang.
Depresi
yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong dan berharap, selalu
menjadi bagian dari hidup penderita. Mereka tidak merasa memiliki
perilaku yang menyimpang, tidak bisa membina hubungan dengan orang lain,
dan tidak mengenal cinta. Perubahan otak secara biologis juga memberi
andil dalam depresi. Depreso yang berkelanjutan akan membuat penderita
menarik diri dari lingkungannya. Mereka selalu merasa aman bila
sendirian.
Schizophrenia
merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan dopamine
(salah satu sel kimia dalam otak). Schizophrenia adalah gangguan jiwa
psikotik yang paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau
respon emosional dan menarik diri dari hubungan antar pribadi normal.
Sering diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah; aneh) dan halusinasi
(persepsi tanpa ada rangsang panca indera).
Penyakit
ini bisa mengenai siapa saja. Tahukah Anda bahwa 75 persen penderita
mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun? Usia remaja dan dewasa muda
memang beresiko tinggi karena tahap ini penuh stressor (penyebab
stress). Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan
lingkungannya karena dianggai sebagai tahap penyesuaian diri dan proses
pencarian jati diri. Dalam beberapa kasus, schizophrenia menyerang usia
muda antara 15-20 tahun. Tetapi serangan kebanyakan terjadi pada usia 40
tahun ke atas.
Schizophrenia
itu genetic. Benarkah demikian? Penelitian genetika molecular modern,
terutama penelitian keterkaitan kromosom, tidak menemukan sesuatu yang
pasti. Saat ini consensus ahli menyatakan bahwa schizophrenia multi
factorial secara genetic. Menurut pendapat saya, genetiknya penyakti ini
disebabkan oleh beberapa hal yang terkait dengan lingkungannya.
Pengasuhan yang salah menjadi salah satu pemicunya. Jika anak tumbuh
menjadi individu yang manja, maka ia lebih berpotensi mengidap penyakit
ini. Selain itu, keluarga besar (memiliki banyak saudara) juga menjadi
salah satu penyebabnya. Problem saudara rentan terjadi sehingga memicu
stress dan depresi pada individu.
Gejala Penderita Schizophrenia adalah :
1) Indikator
premorbid (pra-sakit) pre_schizophrenia antara lain adalah
ketidakmampuan seseorang dalam mengekspresikan emosi: wajah dingin,
jarang tersenyum, acuh tak acuh.
2) Pasien
juga menderita penyimpangan komunikasi : sulit melakukan pembicaraan
terarah, kadang menyimpang atau berputar-putar (sirkumstansial).
3) Gejala lainnya adalah gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan atau memindahkan atensi.
Selain
ketiga hal di atas, gangguan perilaku juga menunjukkan gejala: menjadi
pemalu, tertutup, menarik diri secara social, tidak bisa menikmati rasa
senang, menantang tanpa alasan yang jelas, mengganggu.
Tak
hanya remaja dan orang dewasa yang diserang oleh penyakit ini. Pada
bayi biasanya terdapat problem makan, gangguan tidur kronis, tonus otot
lemah, apatis, dan ketakutan terhadap objek atau benda yang bergerak
cepat. Pada balita, terdapat ketakutan yang berlebihan terhadap hal-hal
baru seperti potong rambut, takut gelap, terhadap label pakaian, takut
terhadap benda-benda bergerak.
Pada
anak usia 5-6 tahun, ia mengalami halusinasi suara seperti mendengar
bunyi letusan, bantingan pintu atau bisikan, mungkin juga halusinasi
visual seperti melihat sesuatu yang bergerak meliuk-liuk, ular,
bola-bola bergelindingan, lintasan cahaya dengan latar belakang warna
gelap. Anak terlihat bicara atau tersenyum sendiri, menutup telinga,
sering mengamuk tanpa sebab.
Meski
bayi dan anak-anak dapat menderita schizophrenia atau penyakit psikotik
lainnya, keberadaan schizophrenia dalam grup ini sangat sulit dibedakan
dengan neurosis (gangguan jiwa) seperti autisme, sindrom Asperger atau
hiperaktif. Untuk itu, diagnosanya harus dilakukan dengan sangat
berhati-hati oleh psikiater atu pun psikolog yang bersangkutan.
Untuk mendiagnosis seseorangitu penderita schizophrenia, harus memiliki beberapa criteria:
- berlangsung paling sedikit enam bulan
- penuruan fungsi yang cukup bermakna, yaitu di bidang pekerjaan, hubungan interpersonal, dan fungsi mendukung diri sendiri.
- pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk khas selama sebagian dari periode tersebut.
- tidak ditemui gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif, gangguan mood mayor, autisme, atau gangguan organic.
Gangguan pada penderita Schizophrenia terjadi pada Gangguan Bentuk Pikiran, yakni :Asosiasi langar : ide tidak saling berkaitan
- Overinklusif : arus pikiran pasien secara terus menerus mengalami gangguan karena pikirannya sering dimasuki informasi yang tidak relevan
- Neologisme : pasien menciptakan kata-kata baru atau yang bagi mereka mungkin mengandung arti simbolik.
- Bloking : pembicaraan tiba-tiba berhenti dan disambung kembali beberapa saat kemudian (biasanya dengan topic lain)
- Klanging : pasien memilih kata-kata dan tema sekaligus berdasarkan bunyi/kata-kata yang baru saja diucapkan dan bukan merupakan isi pikirannya
- Ekolalia : pasien mengulang kata-kata atau kalimat yang baru saja diucapkan seseorang, tetapi dengan gaa musical dan lagu; tanpa upaya yang jelas untuk berkomunikasi
- Konkritisasi : pasien dengan IQ rata-rata normal/ lebih tinggi, tetapi berpikir abstraknya buruk
- Alogia : pasien berbicara sangat sedikit
Kegagalan
berpikir mengarah kepada masalah penderita tidak mampu memroses dan
mengatur pikirannya. Kebanyakan penderita tidak mampu memahami hubungan
antara kenyataan dan logika. Ketidakmampuan dalam berpikir ini
mengakibatkan ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi dan perasaan. Tak
jarang kita melihat penderita tertawa sendiri atau berbicara sendiri
tanpa mempedulikan sekelilingnya. Hal di atas mengakibatkan penderita
tidak mampu memahami siapa dirinya, tidak berpakaian, dan lainnya. Ia
juga tidak mengerti kapan ia lahir, di mana ia berada, dan
sebagainya.termasuk diantaranya :
1) Gangguan
Isi Pikir adalah suatu keyakinan kokoh yang salah dan tidak sesuai
dengan fakta/keyakinan. Keyakinan tsb mungkin aneh dan tetap
dipertahankan meskipun telah diperlihatkan bukti-bukti jelas untuk
mengoreksinya.
2) Gangguan
Persepsi (Halusinasi) adalah hal yang paling sering ditemui. Biasanya
berupa halusinasi auditorik, tetapi bisa juga visual.
3) Gangguan Emosi
· Afek
tumpul datar: ekspresi emosi pasien sedikit bahkan ketika afek tersebut
seharusnya diekspresikan, pasien tidak menunjukkannya
· Afek tidak serasi : afeknya mungkin kuat, tetapi tidak sesuai antara pikiran dan pembicaraan pasien
· Afek labil : dalam jangka waktu pendek, terjadi perubahan afek yang jelas
F. PSIKOTERAPI
Psikoterapi
adalah pengobatan dengan secara psikologis untuk masalah yang berkaitan
dengan pikiran, perasaan dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy)
berasal dari dua kata, yaitu "Psyche" yang artinya jiwa, pikiran atau
mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau
perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah
terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.
Orang
yang melakukan psikoterapi disebut Psikoterapis (Psychotherapist).
Seorang psikoterapis bisa dari kalangan dokter, psikolog atau orang dari
latar belakang apa saja yang mendalami ilmu psikologi dan mampu
melakukan psikoterapi.
Psikoterapi
merupakan proses interaksi formal antara dua pihak atau lebih, yaitu
antara klien dengan psikoterapis yang bertujuan memperbaiki keadaan yang
dikeluhkan klien. Seorang psikoterapis dengan pengetahuan dan
ketrampilan psikologisnya akan membantu klien mengatasi keluhan secara
profesional dan legal.
Ada tiga ciri utama psikoterapi, yaitu:
Ada tiga ciri utama psikoterapi, yaitu:
- Dari segi proses : berupa interaksi antara dua pihak, formal, profesional, legal dan menganut kode etik psikoterapi.
- Dari segi tujuan : untuk mengubah kondisi psikologis seseorang, mengatasi masalah psikologis atau meningkatkan potensi psikologis yang sudah ada.
- Dari segi tindakan: seorang psikoterapis melakukan tindakan terapi berdasarkan ilmu psikologi modern yang sudah teruji efektivitasnya.
Psikoterapi didasarkan pada fakta
bahwa aspek-aspek mental manusia seperti cara berpikir, proses emosi,
persepsi, believe system, kebiasaan dan pola perilaku bisa diubah dengan
pendekatan psikologis. Tujuan psikoterapi antara lain:
- Menghapus, mengubah atau mengurangi gejala gangguan psikologis.
- Mengatasi pola perilaku yang terganggu.
- Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang positif.
- Memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar.
- Menghilangkan atau mengurangi tekanan emosional.
- Mengembangkan potensi klien.
- Mengubah kebiasaan menjadi lebih baik.
- Memodifikasi struktur kognisi (pola pikiran).
- Memperoleh pengetahuan tentang diri / pemahaman diri.
- Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan interaksi sosial.
- Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan.
- Membantu penyembuhan penyakit fisik.
- Meningkatkan kesadaran diri.
- Membangun kemandirian dan ketegaran untuk menghadapi masalah.
- Penyesuaian lingkungan sosial demi tercapai perubahan dan masih banyak lagi.
Dalam psikoterapi, gangguan psikologis diidentifikasi secara ilmiah dengan standar tertentu. Kemudian dilakukan proses psikoterapi menggunakan cara-cara modern yang terbukti berhasil mengatasi hambatan psikologis. Dalam psikoterapi tidak ada hal-hal yang bersifat mistik. Klien psikoterapi juga tidak diberi obat, karena yang sakit adalah jiwanya, bukan fisiknya.
Psikoterapi bukan untuk menangani orang
gila (orang yang rusak otaknya). Justru psikoterapi hanya digunakan
untuk menangani orang waras yang sedang mengalami masalah psikologis,
atau untuk membantu orang normal yang ingin meningkatkan kemampuan
pikirannya. Sedangkan penanganan orang gila adalah urusan Rumah Sakit
Jiwa (RSJ).
Dalam sesi
Psikoterapi, Anda akan diajak membahas dan menganalisa hambatan
psikologis yang ada dalam diri Anda, kemudian mencari pemecahannya
dengan cara menerapkan metode psikoterapi yang paling cocok. Psikoterapi
hanya bisa dilakukan apabila Anda ingin disembuhkan atau ingin berubah.
Psikoterapi tidak bisa dipaksakan kepada orang yang tidak mau dibantu.
Ada
banyak metode psikoterapi yang bisa diterapkan, diantaranya adalah
Psychoanalysis, Gestalt Therapy, Cognitive Behavioural Therapy,
Behaviour Therapy, Body-Oriented Psychotherapy, Expressive Therapy,
Interpersonal Psychotherapy, Narrative Therapy, Conditioning, Mental
Imagery, Neurolinguistic Programming, Laughter Therapy, Self
Programming, Spiritual Therapy, Transpersonal Psychotherapy, Relaxation
Therapy, Forgiveness Therapy, Trance Psychotherapy, Neurofeedback dan
masih banyak lagi. Psikoterapis yang memahami masalah Anda akan
memberikan metode terapi yang paling tepat bagi Anda.
Interaksi
antara Anda dan psikoterapis akan seperti persahabatan. Seorang
psikoterapi tidak bisa membantu dengan maksimal apabila Anda tidak mau
terbuka mengenai masalah Anda. Oleh karena itu, sebelum Anda menemui
psikoterapi (dalam hal ini adalah Mr. Indra Majid), Anda harus membuka
diri untuk mendapatkan sahabat baru.
http://dekhiandika.blogspot.com/2011/12/macam-macam-gangguan-psikologis.html
http://dekhiandika.blogspot.com/2011/12/macam-macam-gangguan-psikologis.html