Kemenangan adalah Orang - orang yang telah mencoba terus mencoba dalam menghadapi rintangan halangan yang membuat hatinya bersabar berdoa serta lapang dada dan selalu yakin kepada Allah SWT

Kembang Api


Jumat, 06 Juni 2014

Pedofilia


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pedofilia
Klasifikasi dan rujukan eksternal
ICD-10 F65.4
ICD-9 302.2
MeSH D010378
Seorang anak laki-laki yang menjadi korban pelecehan seksual.
Sebagai diagnosa medis, pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 16 atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia 13 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi). Anak harus minimal lima tahun lebih muda dalam kasus pedofilia remaja (16 atau lebih tua) baru dapat diklasifikasikan sebagai pedofilia.[1][2][3][4] Kata pedofilia berasal dari bahasa Yunani: paidophilia (παιδοφιλια)—pais (παις, "anak-anak") dan philia (φιλια, "cinta yang bersahabat" atau "persahabatan",[5] meskipun ini arti harfiah telah diubah terhadap daya tarik seksual pada zaman modern, berdasarkan gelar "cinta anak" atau "kekasih anak," oleh pedofil yang menggunakan simbol dan kode untuk mengidentifikasi preferensi mereka.[6][7] Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) mendefinisikan pedofilia sebagai "gangguan kepribadian dewasa dan perilaku" di mana ada pilihan seksual untuk anak-anak pada usia pubertas atau pada masa prapubertas awal.[8] Istilah ini memiliki berbagai definisi seperti yang ditemukan dalam psikiatri, psikologi, bahasa setempat, dan penegakan hukum.
Menurut Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Jiwa (DSM), pedofilia adalah parafilia di mana seseorang memiliki hubungan yang kuat dan berulang terhadap dorongan seksual dan fantasi tentang anak-anak prapuber dan di mana perasaan mereka memiliki salah satu peran atau yang menyebabkan penderitaan atau kesulitan interpersonal.[1] Pada saat ini rancangan DSM-5 mengusulkan untuk menambahkan hebefilia dengan kriteria diagnostik, dan akibatnya untuk mengubah nama untuk gangguan pedohebefilik.[9] Meskipun gangguan ini (pedofilia) sebagian besar didokumentasikan pada pria, ada juga wanita yang menunjukkan gangguan tersebut[10][11], dan peneliti berasumsi perkiraan yang ada lebih rendah dari jumlah sebenarnya pada pedofil perempuan.[12] Tidak ada obat untuk pedofilia yang telah dikembangkan. Namun demikian, terapi tertentu yang dapat mengurangi kejadian seseorang untuk melakukan pelecehan seksual terhadap anak.[13][14] Di Amerika Serikat, menurut Kansas v. Hendricks, pelanggar seks yang didiagnosis dengan gangguan mental tertentu, terutama pedofilia, bisa dikenakan pada komitmen sipil yang tidak terbatas,[15] di bawah undang-undang berbagai negara bagian (umumnya disebut hukum SVP[16][17][18]) dan Undang-Undang Perlindungan dan Keselamatan Anak Adam Walsh pada tahun 2006.[19]
Dalam penggunaan populer, pedofilia berarti kepentingan seksual pada anak-anak atau tindakan pelecehan seksual terhadap anak, sering disebut "kelakuan pedofilia."[2][13][20][21] Misalnya, The American Heritage Stedman's Medical Dictionary menyatakan, "Pedofilia adalah tindakan atau fantasi pada dari pihak orang dewasa yang terlibat dalam aktivitas seksual dengan anak atau anak-anak."[22] Aplikasi umum juga digunakan meluas ke minat seksual dan pelecehan seksual terhadap anak-anak dibawah umur atau remaja pasca pubertas dibawah umur.[23][24] Para peneliti merekomendasikan bahwa tidak tepat menggunakan dihindari[23], karena orang yang melakukan pelecehan seksual anak umumnya menunjukkan gangguan tersebut,[13][25][26] tetapi beberapa pelaku tidak memenuhi standar diagnosa klinis untuk pedofilia, dan standar diagnosis klinis berkaitan dengan masa prapubertas. Selain itu, tidak semua pedofil benar-benar melakukan pelecehan tersebut.[27][28][29]
Pedofilia pertama kali secara resmi diakui dan disebut pada akhir abad ke-19. Sebuah jumlah yang signifikan di daerah penelitian telah terjadi sejak tahun 1980-an. Saat ini, penyebab pasti dari pedofilia belum ditetapkan secara meyakinkan.[30] Penelitian menunjukkan bahwa pedofilia mungkin berkorelasi dengan beberapa kelainan neurologis yang berbeda, dan sering bersamaan dengan adanya gangguan kepribadian lainnya dan patologi psikologis. Dalam konteks psikologi forensik dan penegakan hukum, berbagai tipologi telah disarankan untuk mengkategorikan pedofil menurut perilaku dan motivasinya.[24]

Etimologi dan definisi

Kata ini berasal dari bahasa Yunani: paidophilia (παιδοφιλια)—pais (παις, "anak-anak") dan philia (φιλια, "cinta yang bersahabat" atau "persahabatan".[5] Di zaman modern, pedofil digunakan sebagai ungkapan untuk "cinta anak" atau "kekasih anak" dan sebagian besar dalam konteks ketertarikan romantis atau seksual.[6][7]
Infantofilia, atau nepiofilia, digunakan untuk merujuk pada preferensi seksual untuk bayi dan balita (biasanya umur 0-3).[31]
Pedofilia digunakan untuk individu dengan minat seksual utama pada anak-anak prapuber yang berusia 13 atau lebih muda.[1]
Hebephilia didefinisikan sebagai individu dengan minat seksual utama pada anak prapubertas yang berusia 11 hingga 14 tahun.[32] DSM IV tidak memasukkan hebephilia di dalam daftar di antara diagnosis, sedangkan ICD-10 mencakup hebephilia dalam definisi pedofilia.[3]

Model penyakit

Istilah erotika pedofilia diciptakan pada tahun 1886 oleh psikiater asal Wina, Richard von Krafft-Ebing dalam tulisannya Psychopathia Sexualis.[33] Istilah ini muncul pada bagian yang berjudul "Pelanggaran Individu Pada Abad Empat belas," yang berfokus pada aspek psikiatri forensik dari pelanggar seksual anak pada umumnya. Krafft-Ebing menjelaskan beberapa tipologi pelaku, membagi mereka menjadi asal usul psikopatologis dan non-psikopatologis, dan hipotesis beberapa faktor penyebab yang terlihat yang dapat mengarah pada pelecehan seksual terhadap anak-anak.[33]
Krafft-Ebing menyebutkan erotika pedofilia dalam tipologi "penyimpangan psiko-seksual." Dia menulis bahwa ia hanya menemukan empat kali selama karirnya dan memberikan deskripsi singkat untuk setiap kasus, daftar tiga ciri umumnya yaitu:
  1. Individu tercemari [oleh keturunan] (belastate hereditär).[34]
  2. Daya tarik utama subyek adalah untuk anak-anak, daripada orang dewasa.
  3. Tindakan yang dilakukan oleh subjek biasanya tidak berhubungan, melainkan melibatkan tindakan yang tidak pantas seperti menyentuh atau memanipulasi anak dalam melakukan tindakan pada subjek.
Dia menyebutkan beberapa kasus pedofilia di kalangan perempuan dewasa (yang disediakan oleh dokter lain), dan juga dianggap sebagai pelecehan terhadap anak laki-laki oleh laki-laki homoseksual menjadi sangat langka.[33] Lebih lanjut mengklarifikasi hal ini, ia menunjukkan bahwa kasus pria dewasa yang memiliki gangguan kesehatan atau neurologis dan pelecehan terhadap seorang anak laki-laki yang bukan pedofilia yang sebenarnya, dan bahwa dalam korban pengamatannya adalah orang-orang seperti itu cenderung lebih tua dan dibawah umur. Dia juga mencantumkan "Pseudopaedofilia" sebagai kondisi istimewa dimana "individu yang telah kehilangan libido untuk orang dewasa melalui masturbasi dan kemudian berbalik kepada anak-anak untuk pemuasan nafsu seksual mereka" dan menyatakan ini jauh lebih umum.[33]
Pada tahun 1908, neuroanatomis dan psikiater asal Swiss, Auguste Forel menulis tentang fenomena tersebut, mengusulkan bahwa hal itu disebut sebagai "Pederosis," pada "Nafsu Seksual pada Anak." Mirip dengan karya Krafft-Ebing, Forel membuat perbedaan antara pelecehan seksual insidentil oleh orang dengan demensia dan kondisi otak organik, dan keinginan seksual yang benar-benar istimewa dan kadang-kadang eksklusif pada anak-anak. Namun, ia tidak setuju dengan Krafft-Ebing dimana bahwa ia merasakan kondisi yang kedua adalah terutama tertanam dan tak berubah.[35]
Istilah "pedofilia" menjadi istilah yang berlaku umum pada kondisi dan dilihat penerapan secara luas pada awal abad 20, muncul dimana banyak dalam kamus medis populer seperti Stedman Edisi ke-5. Pada tahun 1952, itu termasuk dalam edisi pertama Diagnostik Manual dan Statistik Gangguan Mental.[36] Edisi ini dan selanjutnya DSM-II yang terdaftar gangguan sebagai salah satu subtipe dari klasifikasi "Deviasi Seksual," tetapi tidak ada kriteria diagnostik disediakan. DSM-III, diterbitkan pada tahun 1980, berisi deskripsi lengkap dari gangguan dan memberikan seperangkat pedoman untuk diagnosis.[37] Revisi pada tahun 1987, DSM-III-R, tetap dengan deskripsi yang sebagian besar sama, tapi diperbaharui dan diperluas kriteria diagnostiknya.[38] Beberapa dokter mengusulkan pengkategorian lebih lanjut, agak atau sama sekali dibedakan dari pedofilia, termasuk "pedohebefilia," "hebefilia," dan "efebofilia" (walaupun efebofilia tidak dianggap patologis).[9][39] Ahli lain seperti Karen Franklin mempertimbangkan klasifikasi seperti hebefilia menjadi "pretekstual" diagnosa yang tidak harus dianggap sebagai gangguan.[40]

Kriteria diagnostik

ICD-10 dan DSM

ICD-10 mendefinisikan pedofilia sebagai "preferensi seksual untuk anak-anak, anak laki-laki atau perempuan atau keduanya, biasanya usia prapubertas atau awal pubertas."[8] Berdasarkan kriteria sistem ini, orang yang berusia 16 tahun atau lebih memenuhi definisi jika mereka memiliki preferensi seksual terus-menerus atau pradominan untuk anak-anak praremaja setidaknya lima tahun lebih muda dari mereka.[8]
Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Mental Edisi ke-4 Edisi Revisi (DSM-IV-TR) menguraikan kriteria khusus untuk digunakan dalam diagnosis gangguan ini. Ini termasuk adanya fantasi seksual yang membangkitkan gairah, perilaku atau dorongan yang melibatkan beberapa jenis aktivitas seksual dengan anak praremaja (usia 13 atau lebih muda, meskipun permulaan pubertas dapat bervariasi) selama enam bulan atau lebih, dan bahwa subjek telah bertindak atas hal tersebut karena dorongan atau mengalami dari kesulitan sebagai hasil dari memiliki perasaan ini. Kriteria ini juga menunjukkan bahwa subjek harus berusia 16 tahun atau lebih tua dan bahwa seorang anak atau anak-anak mereka berfantasi tentang setidaknya terhadap anak yang berusia lima tahun lebih muda dari mereka, meskipun hubungan seksual berlangsung antara usia 12-13 tahun dan masa-masa akhir remaja disarankan untuk dikecualikan. Diagnosis lebih lanjut ditentukan oleh jenis kelamin anak orang tersebut tertarik, jika impuls atau tindakan terbatas pada inses, dan jika daya tarik adalah "eksklusif" atau "noneksklusif."[1]
Banyak istilah telah digunakan untuk membedakan "pedofil sejati" dari pelaku non pedofil dan non eksklusif, atau untuk membedakan antara jenis pelaku dalam sebuah kontinum sesuai dengan kekuatan dan eksklusivitas kepentingan pedofil, dan motivasi atas perbuatan itu (lihat Jenis pelaku pelecehan seksual terhadap anak). Pedofil Eksklusif kadang-kadang disebut sebagai "pedofil sejati." Mereka tertarik pada anak-anak, dan anak-anak saja. Mereka menunjukkan sedikit minat erotis pada orang dewasa yang sesuai dengan usia mereka sendiri dan, dalam beberapa kasus, hanya bisa menjadi terangsang ketika berfantasi atau berada di hadapan anak-anak praremaja.[12] Pedofil non eksklusif terkadang disebut sebagai pelaku non pedofil, tetapi dua istilah ini tidak selalu identik. Pedofil non eksklusif tertarik pada anak-anak dan orang dewasa, dan dapat terangsang oleh keduanya, meskipun preferensi seksual bagi salah satu dari yang lain dalam kasus ini juga mungkin ada.[12]
Baik kriteria diagnostik ICD maupun DSM membutuhkan aktivitas seksual yang sebenarnya dengan seorang pemuda praremaja. Diagnosis sehingga dapat dibuat berdasarkan adanya fantasi atau dorongan seksual bahkan jika mereka tidak pernah ditindaklanjuti. Di sisi lain, seseorang yang bertindak atas dorongan ini belum ada pengalaman buruk tentang fantasi mereka atau dorongan dapat juga memenuhi syarat untuk diagnosis. Bertindak berdasarkan dorongan seksual tidak terbatas pada tindakan seks yang jelas untuk tujuan diagnosa ini, dan kadang-kadang dapat mencakup paparan yang tidak senonoh, perilaku voyeuristik atau frotteuristik,[1] atau bermasturbasi dengan pornografi anak.[41] Seringkali, perilaku ini perlu dipertimbangkan dalam konteks dengan unsur penilaian klinis sebelum diagnosis dibuat. Demikian juga, ketika pasien berada dalam masa remaja akhir, perbedaan usia tidak ditentukan dalam angka yang keras dan bukannya memerlukan pertimbangan situasi yang cermat.[42]
Dystonik ego orientasi seksual (F66.1) termasuk orang yang tidak ragu bahwa mereka memiliki preferensi seksual sebelum pubertas, namun berharap itu berbeda karena gangguan psikologis dan perilaku yang terkait. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memungkinkan bagi pasien untuk mencari pengobatan untuk mengubah orientasi seksual mereka.

Perdebatan mengenai kriteria DSM

Kriteria DSM IV telah dikritik secara bersamaan karena lebih inklusif, serta di bawah inklusif.[43] Meskipun kebanyakan peneliti membedakan antara penganiaya anak dan pedofil,[3][27][28][43] Studer dan Aylwin berpendapat bahwa kriteria DSM lebih inklusif karena semua tindakan pelecehan seksual terhadap anak memerlukan diagnosis. Seorang penganiaya anak memenuhi kriteria A karena perilaku yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak-anak praremaja dan B kriteria karena individu telah melakukan tindakan yang mendesak pada mereka.[43]

Penggunaan lainnya

Pada tahun 1993, peninjauan penelitian tentang pelecehan seksual anak, Sharon Araji dan David Finkelhor menyatakan bahwa karena bidang penelitian ini belum berkembang pada waktu itu, ada "masalah definisi" akibat dari kurangnya standardisasi di antara peneliti dalam penggunaan istilah "pedofilia". Mereka menguraikan dua definisi, sebuah "restriktif" bentuk yang mengacu kepada individu dengan minat seksual yang kuat dan eksklusif pada anak-anak, dan definisi "inklusif", memperluas istilah tersebut dapat menyertakan pelaku yang terlibat dalam kontak seksual dengan seorang anak, termasuk inses. Mereka menyatakan bahwa mereka menggunakan definisi yang lebih luas dalam makalah kajian mereka karena kriteria perilaku lebih mudah untuk mengidentifikasi dan tidak memerlukan analisis kompleks dari motivasi individu.[25]

Perkembangan dan orientasi seksual

Pedofilia dapat digambarkan sebagai gangguan preferensi seksual, fenomenologis mirip dengan orientasi heteroseksual atau homoseksual karena itu muncul sebelum atau selama pubertas, dan karena stabil sepanjang waktu.[44] Pengamatan ini, bagaimanapun, tidak mengecualikan pedofilia dari kelompok gangguan jiwa karena tindakan pedofil menyebabkan kerugian, dan pedofilia kadang-kadang dapat dibantu oleh para profesional kesehatan mental untuk menahan diri dari bertindak atas impuls mereka.[45]
Sedangkan 2 sampai 4% dari laki-laki dengan preferensi untuk orang dewasa memiliki preferensi homoseksual, 25 sampai 40% dari laki-laki dengan preferensi untuk anak-anak memiliki preferensi seksual sejenis.[46] Namun, tidak seperti laki-laki dengan preferensi homoseksual dewasa, laki-laki dengan preferensi anak yang sama-seks biasanya tidak menunjukkan perilaku masa kanak-kanak lintas gender.[46] Rata-rata, orang dengan preferensi seks sejenis lebih menyukai hubungan seksual dengan anak yang lebih tua daripada laki-laki dengan preferensi terhadap anak yang heteroseksual.[46]

Psikopatologi dan kepribadian

Prevalensi dan penganiayaan anak

Pornografi anak

Pornografi anak biasanya diperoleh oleh pedofil yang menggunakan gambar untuk berbagai keperluan, mulai dari menggunakannya untuk kepentingan seksual pribadi, perdagangan dengan pedofil lain, menyiapkan anak-anak untuk pelecehan seksual sebagai bagian dari proses yang dikenal sebagai "perawatan anak", atau bujukan yang mengarah ke jebakan untuk eksploitasi seksual seperti produksi pornografi anak yang baru atau prostitusi anak.[47][48][49]

Penyebab

Asosiasi biologis

Penjelasan neurohormonal

Pengalaman anak usia dini

Psikolog Vernon Quinsey menolak hipotesis bahwa pelecehan seksual sewaktu kecil dapat mengubah seseorang menjadi pedofil.[46] Dia menyebutkan contoh dalam masyarakat di mana seks antara remaja laki-laki dan laki-laki dewasa "sangat umum terjadi." Meskipun anak-anak tidak termasuk sebagai praremaja, Quinsey merasa bahwa fakta bahwa anak-anak ini tumbuh menyukai wanita dewasa dan menghasilkan anak-anak mereka sendiri melemahkan hipotesis "pengalaman anak usia dini".[46] Dia menganggap bukti "sangat lemah," karena berasal dari "laporan retrospektif" pelaku dengan kelompok pembanding yang tidak memadai.[46]

Perawatan

Meskipun pedofilia belum ada obatnya, berbagai perawatan yang tersedia yang bertujuan untuk mengurangi atau mencegah ekspresi perilaku pedofilia, mengurangi prevalensi pelecehan seksual terhadap anak.[14][50] Pengobatan pedofilia sering membutuhkan kerjasama antara penegak hukum dan profesional kesehatan.[13][14] Sejumlah teknik pengobatan yang diusulkan untuk pedofilia telah dikembangkan, meskipun tingkat keberhasilan terapi ini sangat rendah.[51]

Terapi perilaku kognitif ("pencegahan kambuh")

Terapi perilaku kognitif telah terbukti mengurangi residivisme pada orang yang memiliki hubungan dengan pelaku kejahatan seks.[52]
Menurut seorang seksolog asal Kanada Michael Seto, perawatan perilaku kognitif mempunyai sasaran, keyakinan, dan perilaku yang dipercaya untuk meningkatkan kemungkinan pelanggaran seksual terhadap anak-anak, dan "pencegahan untuk kambuh" adalah jenis yang paling umum dari pengobatan perilaku kognitif.[53] Teknik-teknik pencegahan untuk kambuh kembali didasarkan pada prinsip-prinsip yang digunakan untuk mengobati kecanduan.[54] Ilmuwan lain juga melakukan beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa tingkat residivisme pedofil dalam terapi lebih rendah dari pedofil yang menjauhi terapi.[54]

Intervensi perilaku

Perilaku perawatan terhadap target gairah seksual kepada anak-anak, menggunakan teknik kejenuhan dan keengganan untuk menekan gairah seksual kepada anak-anak dan sensitisasi terselubung (atau rekondisi masturbatori) untuk meningkatkan gairah seksual bagi orang dewasa.[53] Perilaku perawatan tampaknya berpengaruh terhadap pola gairah seksual pada pengujian phallometriK, tetapi tidak diketahui apakah perubahan uji mewakili perubahan kepentingan seksual atau perubahan dalam kemampuan untuk mengendalikan stimulasi genital selama pengujian.[55][56]
Analisis perilaku terapan telah diterapkan dengan pelaku seks dengan cacat mental.[57]

Intervensi farmakologi

Keterbatasan pengobatan

Dalam hukum dan psikologi forensik

Definisi

Komitmen sipil

Pandangan masyarakat

Umum

Pedofilia dan pelecehan seksual terhadap anak umumnya dipandang secara moral salah dan abnormal oleh masyarakat.[58][7][59] Penelitian pada akhir tahun 1980-an menunjukkan bahwa ada banyak kesalahpahaman dan persepsi yang tidak realistis di masyarakat umum tentang pedofilia (La Fontaine, 1990; Leberg, 1997). Namun, penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa persepsi publik secara bertahap menjadi lebih informasi yang cukup tentang hal ini.[60]

Penyalahgunaan istilah medis

Grup advokasi pedofilia

Aktivisme anti pedofilia

Dalam literatur, televisi dan film

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama dsm4
  2. ^ a b "Pedophilia". Encyclopædia Britannica.
  3. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama SetoReview
  4. ^ Section F65.4: Paedophilia (online access via ICD-10 site map table of contents)."Pedophilia". ICD-10. Diakses 2012-10-10.
  5. ^ a b Liddell, H.G., and Scott, Robert (1959). Intermediate Greek-English Lexicon. ISBN 0-19-910206-6.
  6. ^ a b FBI's January 2007 "intelligence bulletin" on "symbols and logos used by pedophiles to identify sexual preferences." The document (see Pages 2-4), was prepared and distributed to FBI divisions and field offices in 2007 by the Cyber Division's Innocent Images National Initiative. Goldstein, Bonnie (2007-12-03). "The Pedophile's Secret Code". Slate. Diakses 2011-01-01.
  7. ^ a b c Tom Philbin, Michael Philbin (2007). The Killer Book of True Crime: Incredible Stories, Facts and Trivia from the World of Murder and Mayhem. Sourcebooks, Inc. hlm. 344. ISBN 1402208294, 9781402208294 Check |isbn= value (help). Diakses 2011-01-01.
  8. ^ a b c World Health Organization, International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems: ICD-10 Section F65.4: Paedophilia (online access via ICD-10 site map table of contents)
  9. ^ a b Pedohebephilic Disorder
  10. ^ Goldman, Howard H. (2000). Review of General Psychiatry. McGraw-Hill Professional Psychiatry. hlm. 374. ISBN 0838584349.
  11. ^ Ryan C. W. Hall, MD and Richard C. W. Hall, MD, PA, Mayo Clinic Proceedings A Profile of Pedophilia'.' Retrieved September 29, 2009.
  12. ^ a b c Lisa J. Cohen, PhD and Igor Galynker, MD, PhD (2009-06-08). "Psychopathology and Personality Traits of Pedophiles". Psychiatric Times. Diakses 2010-10-15.
  13. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama faganJAMA
  14. ^ a b c Fuller AK (January 1989). "Child molestation and pedophilia. An overview for the physician". JAMA 261 (4): 602–6. doi:10.1001/jama.261.4.602. PMID 2642565.
  15. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama cp
  16. ^ http://www.jaapl.org/cgi/reprint/30/4/556.pdf
  17. ^ http://books.google.com/books?id=V-jrT7yjiwgC&pg=PA483
  18. ^ http://www.jaapl.org/cgi/reprint/36/4/443.pdf
  19. ^ JESSE J. HOLLAND, Court: Sexually dangerous can be kept in prison, Associated Press. Retrieved 5-16-2010.
  20. ^ "Pedophilia". Psychology Today Diagnosis Dictionary. Sussex Publishers, LLC. 7 September 2006. "Pedophilia is defined as the fantasy or act of sexual activity with prepubescent children."
  21. ^ Burgess, Ann Wolbert; Ann Wolbert (1978). Sexual Assault of Children and Adolescents. Lexington Books. hlm. 9–10, 24, 40. ISBN 0669018929. "the sexual misuse and abuse of children constitutes pedophilia"
  22. ^ ""pedophilia" (n.d.)". The American Heritage Stedman's Medical Dictionary. Diakses 2010-09-23. "The act or fantasy on the part of an adult of engaging in sexual activity with a child or children."
  23. ^ a b Ames MA, Houston DA (August 1990). "Legal, social, and biological definitions of pedophilia". Arch Sex Behav 19 (4): 333–42. doi:10.1007/BF01541928. PMID 2205170.
  24. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama lanning3e
  25. ^ a b Finkelhor, David; Sharon Araji (1986). A Sourcebook on Child Sexual Abuse: Sourcebook on Child Sexual Abuse. Sage Publications. hlm. 90. ISBN 0803927495.
  26. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama mayoclinic
  27. ^ a b Edwards, M. (1997) "Treatment for Paedophiles; Treatment for Sex Offenders." Paedophile Policy and Prevention, Australian Institute of Criminology Research and Public Policy Series (12), 74-75.
  28. ^ a b Blaney, Paul H.; Millon, Theodore (2009). Oxford Textbook of Psychopathology (Oxford Series in Clinical Psychology) (ed. 2nd). Oxford University Press, USA. hlm. 528. ISBN 0-19-537421-5. "Some cases of child molestation, especially those involving incest, are committed in the absence of any identifiable deviant erotic age preference."
  29. ^ Beier, K. M., Ahlers, C. J., Goecker, D., Neutze, J., Mundt, I. A., Hupp, E., & Schaefer, G. A. (2009). Can pedophiles be reached for primary prevention of child sexual abuse? First results of the Berlin Prevention Project Dunkelfeld (PPD). The Journal of Forensic Psychiatry & Psychology, 20, 851–867.
  30. ^ "Pedophilia (Causes)". Psychology Today. Sussex Publishers, LLC. 7 September 2006.
  31. ^ Laws, D. Richard; William T. O'Donohue (2008). Sexual Deviance: Theory, Assessment, and Treatment. Guilford Press. hlm. 176. ISBN 1593856059.
  32. ^ Blanchard R, Lykins AD, Wherrett D, Kuban ME, Cantor JM, Blak T, Dickey R, Klassen PE. Pedophilia, hebephilia, and the DSM-V. Arch Sex Behav. 2009 Jun;38(3):335-50. Epub 2008 Aug 7. PubMed PMID: 18686026.
  33. ^ a b c d Von Krafft-Ebing, Richard (1922). Psychopathia Sexualis. Translated to English by Francis Joseph Rebman. Medical Art Agency. hlm. 552–560. ISBN 1871592550.
  34. ^ Roudinesco, Élisabeth (2009). Our dark side: a history of perversion, p. 144. Polity, ISBN 978-0-7456-4593-3
  35. ^ Forel, Auguste (1908). The Sexual Question: A scientific, psychological, hygienic and sociological study for the cultured classes. Translated to English by C.F. Marshall, MD. Rebman. hlm. 254–255.
  36. ^ American Psychiatric Association Committee on Nomenclature and Statistics (1952). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (ed. 1st). Washington, D.C: The Association. hlm. 39.
  37. ^ American Psychiatric Association: Committee on Nomenclature and Statistics (1980). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (ed. 3rd). Washington, D.C: American Psychiatric Association. hlm. 271.
  38. ^ Diagnostic and statistical manual of mental disorders: DSM-III-R. Washington, DC: American Psychiatric Association. 1987. ISBN 0-89042-018-1.
  39. ^ S. Berlin, Frederick. "Interview with Frederick S. Berlin, M.D., Ph.D.". Office of Media Relations. Diakses 2008-06-27.
  40. ^ Franklin, K. (2009). The public policy implications of 'Hebephilia': A response to Blanchard et al. Archives of Sexual Behavior, 38, 319-320. doi: 10.1007/s10508-008-9425-y
  41. ^ Seto MC, Cantor JM, Blanchard R (August 2006). "Child pornography offenses are a valid diagnostic indicator of pedophilia". J Abnorm Psychol 115 (3): 610–5. doi:10.1037/0021-843X.115.3.610. PMID 16866601. "The results suggest child pornography offending is a stronger diagnostic indicator of pedophilia than is sexually offending against child victims"
  42. ^ Pedophilia DSM at the Medem Online Medical Library
  43. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Studer
  44. ^ Brian L. Cutler, Encyclopedia of Psychology and Law, SAGE, 2008, ISBN 978-1-4129-5189-0, p. 549
  45. ^ http://ajp.psychiatryonline.org/cgi/content/full/157/5/838
  46. ^ a b c d e f Quinsey, VL. (Jun 2003). "The etiology of anomalous sexual preferences in men.". Ann N Y Acad Sci 989: 105–17; discussion 144–53. PMID 12839890.
  47. ^ Crosson-Tower, Cynthia (2005). Understanding child abuse and neglect. Allyn & Bacon. hlm. 208. ISBN 020540183X.
  48. ^ Richard Wortley, Stephen Smallbone. "Child Pornography on the Internet". Problem-Oriented Guides for Police. No. 41: p14–16.
  49. ^ Levesque, Roger J. R. (1999). Sexual Abuse of Children: A Human Rights Perspective. Indiana University. hlm. p64. ISBN 0253334713.
  50. ^ Public Policy
  51. ^ Crawford, David (1981). "Treatment approaches with pedophiles." Adult sexual interest in children. 181-217.
  52. ^ Marshall, W.L., Jones, R., Ward, T., Johnston, P. & Bambaree, H.E.(1991). Treatment of sex offenders. Clinical Psychology Review, 11, 465-485
  53. ^ a b Seto, M. C. (2008). Pedophilia and sexual offending against children: Theory, assessment, and intervention. Washington, DC: American Psychological Association.
  54. ^ a b Pedophilia Often in Headlines, But Not in Research Labs — Psychiatric News
  55. ^ Barbaree, H. E., Bogaert, A. F., & Seto, M. C. (1995). Sexual reorientation therapy for pedophiles: Practices and controversies. In L. Diamant & R. D. McAnulty (Eds.), The psychology of sexual orientation, behavior, and identity: A handbook (pp. 357–383). Westport, CT: Greenwood Press.
  56. ^ Barbaree, H. C., & Seto, M. C. (1997). Pedophilia: Assessment and treatment. In D. R. Laws & W. T. O'Donohue (eds.), Sexual deviance: Theory, assessment and treatment (pp. 175–193). New York: Guildford Press.
  57. ^ Maguth Nezu, C., Fiore, A. A. & Nezu, A. M (2006). Problem Solving Treatment for Intellectually Disabled Sex Offenders. International Journal of Behavioral Consultation and Therapy, 2, 266-275.
  58. ^ "Pedophilia is one sexual disorder that is widely looked upon as legally, socially, and morally wrong." Eric W. Hickey (2006). Sex crimes and paraphilia. Pearson Education (Digitized Oct 30, 2008). hlm. 537 pages. ISBN 0131703501, 9780131703506 Check |isbn= value (help). Diakses 2010-10-15.
  59. ^ Ben Spieckera; Jan Steutela (September 1997). "Paedophilia, Sexual Desire and Perversity". Journal of Moral Education 26 (3): 331–342. doi:10.1080/0305724970260307.
  60. ^ McCartan, K. (Oct 2004). "'Here There Be Monsters': the public's perception of paedophiles with particular reference to Belfast and Leicester.". Med Sci Law 44 (4): 327–42. doi:10.1258/rsmmsl.44.4.327. PMID 15573972.
Share:

Tips Cara Menghilangkan Jerawat Secara Alami

Cara Menghilangkan Jerawat - Hey Kamu, Iya Kamu yang pasti lagi sebel karena Jerawatan, iya aku memahami itu makanya pada kesempatan kali ini aku Mencoba untuk membagikan kepada kamu mengenai Cara Menghilangkan Jerawat yang bisa di lakukan dengan bahan-bahan alami yang sudah kami post di artikel-artikel sebelumnya yang mana, udah aku bahas secara mendalam mengenai Kelasifikasi dan juga ciri-cirinya, nanti aku berikan link-linknya ya, Jadi tenang aja Teman-teman pembaca blog Khasiat Daun Alami ini.

Cara Menghilangkan Jerawat
Ilustrasi Jerawatan

Eh ngomong-ngomong ini penulis kok jadi Lain banget ya gaya bahasanya,hahah.
Ya iyalah wong ini Artikel untuk remaja ya adminya coba untuk belajar menyesuaikan artikelnya dengan para pengunjungnya, kan adminya udah tau siapa yang akan masuk atau membaca Tips untuk Menghilangkan Jerawat ini, Iya Pasti kamu, Iya kamu anak remaja yang lagi Galau karena Mulai tumbuh Jerawatnya,xixi
Jangan-jangan itu JERAWAT CINTA, Cie Cie Cie yang udah muali jatuh Cinta ya :D
Ops, mari kita lanjut untuk Membahas tuntas mengenai Cara Mengobati Jerawat Secara Alami di Bawah ini.

Tips Cara Menghilangkan Jerawat Secara Alami

1.Cara Mengobati Jerawat Dengan Putih Telur
Caranya yaitu, pisahkan kuning telur dan ambil putih telurnya saja. Kocok sebentar lalu oleskan ke wajah dan diamkan selama 15 menit. Putih telur ini akan membantu mengurangi minyak di wajah yang seringkali menyebabkan timbulnya jerawat.

2.Cara Mengobati Jerawat Dengan Pasta Gigi
Satu hal yang perlu diingat disini pasta gigi yang digunakan adalah yang bentuknya pasta(seperti Pepsodent) bukan yang bentuknya gel(seperti Close Up). Caranya hampir sama denga kedua cara di atas. Oleskan pasta gigi ke jerawat dan bagian lain di sekitar jerawat tersebut sebelum tidur. Biarkan semalaman/sampai pagi kemudian bilas dengan air bersih.

3.Cara Mengobati Jerawat Dengan Tomat
Buah yang satu ini selain bagus untuk kesehatan mata juga cukup efektif menghilangkan komedo hitam(blackheads). Yang pertama harus dilakukan adalah mengiris tomat menjadi dua lalu oleskan ke seluruh wajah yang berjerawat dan biarkan selama 15 menit – 1 jam kemudian bilas. dan makanlah untuk perawatan dari dalam.

4.Cara Mengobati Jerawat Dengan Lidah Buaya
Perhatian jangan gunakan lidah yang asli dari mulut buaya ya, he,, Ambil satu daun lidah buaya, potong beberapa bagian, kelupas kulit luarnya, oleskan di bagian yang muncul jerawat, dan ulangi melakukan cara ini tiap pagi dan sore. Jika kalian cukup telaten, jerawat mungkin akan dapat mongering dan mengelupas selama 3 hari. Selain itu lidah buaya juga mampu menghilangkan bekas jerawat yang membandel. Sekali lagi kuncinya hanya satu, telaten.!!

5.Cara Mengobati Jerawat Dengan Bawang Putih
Ada dua pilihan dalam menggunakan bawang putih untuk menghilangkan jerawat. Pertama dengan menumbuk dua atau lebih bawang putih hingga cukup halus lalu dioleskan ke bagian wajah yang berjerawat. Diamkan selama 10 menit lalu bilas. Sedangkan cara kedua adalah dengan memakan satu atau lebih bawang putih setiap hari.
Banyak yang mengatakan kedua cara ini cukup efekktif, namun bagi kalian yang tidak menyukai bau bawang putih mungkin lebih baik menempuh cara yang lain. Jangan khawatir masih banyak cara alami lainnya yang akan saya jelaskan di bawah ini.

6.Cara Mengobati Jerawat Dengan Selalu Bersihkan Wajah
Selalu rawat kebersihan wajah setiap hari dari kotoran dan debu dijalan. Untuk kita yang selalu aktif dan berurusan dengan debu dijalan, maka rajin-rajinlah membersihkan muka sebelum atau sesudah beraktifitas. Sebagai konsumsi dari dalam, maka perbanyaklah makan sayuran dan minum air putih. Buat yang gak suka sayur.!, maka buah yang mengandung air dapat menjadi alternatif dalam merawat wajah dari dalam. Karena kandungan yang terdapat dalam buah dan sayuran sangat diyakini bisa menjadikan wajah kita lebih bersih dan berseri.

Nah banyak Bukan Caranya, sebenarnya banyak sih cara untuk menghilangkan jerawat ini, asal kita rajin untuk mencari tau aja, apa lagi sekarang udah mudah banget untuk mencari Info kan, tinggal buka Internet, pencet tu BB Atau Androidnya, dan Dapet deh infonya, termasuk kamu nyampe ke blog ini,hehe
Ya udah selamat mencoba ya, Jangan lupa tinggalkan komentar di bawah ya, buat Sensasi,hahah.
Share:

Rabu, 07 Mei 2014

ANALISIS LEKSIKAL


Analisis leksikal adalah sebuah proses yang mendahului parsing sebuah rangkaian karakter. Ia menerima masukan serangkaian karakter (seperti dalam dokumen plain-text atau source code) dan menghasilkan deretan simbol yang masing-masing dinamakan token; proses parsing akan lebih mudah dilakukan bila inputnya sudah berupa token.
Analisis leksikal terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah pemindaian (scanning); scanner biasanya dibuat berdasarkan prinsip Finite State Machine ("mesin dengan jumlah keadaan terbatas"). Pada tahap ini, scanner akan membaca input karakter-ke-karakter, mengubah keadaannya sendiri berdasarkan karakter yang tengah dibaca. Setiap kondisi final (input dianggap valid) akan dicatat, bersama dengan lokasi input. Pada akhirnya scanner akan menemui keadaan penolakan, yang tidak akan berubah dengan input karakter apapun. Deteksi rekursi semacam ini akan mengakhiri proses pemindaian dan memindahkan keadaan scanner ke keadaan final terakhir, dan karenanya menyimpan informasi jenis dan besar lexeme valid yang terpanjang di dalam input.
Namun lexeme tersebut belum punya nilai semantik apapun; pemberian nilai semantik pada setiap unit leksikal adalah tugas dari evaluator yang memeriksa semua karakter setiap lexeme dan memberinya nilai tertentu. Saat sebuah lexeme telah memiliki informasi mengenai tipe dan nilainya, ia dapat secara valid disebut sebagai token.
Analisis leksikal membuat pekerjaan membuat sebuah parser jadi lebih mudah; ketimbang membangun nama setiap fungsi dan variabel dari karakter-karakter yang menyusunnya, dengan analisis leksikal parser cukup hanya berurusan dengan sekumpulan token dan nilai sintaksis masing-masing. Terlepas dari efisiensi pemrograman yang dapat dicapai dengan penggunaannya, proses kerja analisis leksikal yang membaca lebih dari sekali setiap karakter dari input yang diberikan menjadikan penganalisa leksikal sebagai sub-sistem yang paling intensif melakukan komputasi, terutama bila digunakan dalam sebuah kompilator.
Analisis Leksikal atau scanner  bertugas mengidentifikasi semua besaran pembangun bahasa(leksikal) yang ada pada kode sumber  (source code)
Scanner menerima masukan kode sumber berupa serangkaian karakter kemudian memilah-milahnya kedalam satuan leksikal yaitu token.
Token-token ini akan menjadi masukan bagi analisis leksikal selanjutnya yaitu analisis sintaksis.

Dari fungsi scanner secara umum seperti telah disebutkan diatas, maka tugas scanner secara rinci adalah:
1.       Membaca serangkaian karakter dari kode sumber
2.       Mengenali kedalam satuan leksikal
3.       Mengubah menjadi token dan menentukan jenis tokennua
4.       Mengirimkan token ke proses analisis selanjutnya, yaitu analisis sintaksis
5.       Mengabaikan karakter white space (spasi, enter, ganti baris, penanda akhir file) dan komenter (remark) apabila ada didalam kode sumber
6.       Menangani kesalahan
7.       Menangani table symbol.
`     Analisis Leksikal merupakan antarmuka antara kode program sumber dan analisis sintaktik (parser). Scanner melakukan pemeriksaan karakter per karakter pada teks masukan, memecah sumber program menjadi bagian-bagian disebut Token.

Analisis Leksikal mengerjakan pengelompokkan urutan-urutan karakter ke dalam komponen pokok: identifier, delimeter, simbol-simbol operator, angka, keyword, noise word, blank, komentar, dan seterusnya menghasilkan suatu Token Leksikal yang akan digunakan pada Analisis Sintaktik.

Model dasar untuk membentuk suatu Analisis Leksikal adalah Finite-State Automata.

2. aspek penting pembuatan Analisis Leksikal adalah:
- Menentukan token-token bahasa.
- Mengenali token-token bahasa dari program sumber.

Token-token dihasilkan dengan cara memisahkan program sumber tersebut dilewatkan ke parser

Analisis Leksikal harus mengirim token ke parser. Untuk mengirim token, scanner harus mengisolasi barisan karakter pada teks sumber yang merupakan 1 token valid. Scanner juga menyingkirkan informasi seperti komentar, blank, batas-batas baris dan lain-lain yang tidak penting (tidak mempunyai arti) bagi parsing dan Code Generator.

Scanner juga harus dapat mengidentifikasi token secara lengkap dan membedakan keyword dan identifier. Untuk itu scanner memerlukan tabel simbol. Scanner memasukkan identifier ke tabel simbol, memasukkan konstanta literal dan numerik ke tabel simbol sendiri setelah konversi menjadi bentuk internal.

Analisis Leksikal merupakan komponen kompilasi independen yang berkomunikasi dengan parser lewat antarmuka yang terdefinisi bagus dan sederhana sehingga pemeliharaan analisis leksikal menjadi lebih mudah dimana perubahan-perubahan terhadap analisis leksikal tidak berdampak pada pengubahan kompilator secara keseluruhan.

Agar dapat memperoleh fitur ini, maka antarmuka harus tidak berubah. Kebanyakan kode yang menyusun analisis leksikal adalah sama untuk seluruh kompilator, tidak peduli bahasa.

Pada analisis leksikal yang dituntun tabel (table-driven lexical analyzer), maka satu-satunya yang berubah adalah tabel itu sendiri.

Kadang diperlukan interaksi analisis leksikal dan analisis sintaktik yang lebih kompleks. Sehingga analisis leksikal harus dapat menganggap string sebagai token bertipe, bukan identifier.

Untuk itu perlu komunikasi tingkat lebih tinggi yang biasanya dilakukan suatu struktur data dipakai bersama seperti tabel simbol.

Analisis Sintaktik dapat memasukkan string ke tabel simbol, mengidentifikasi sebagai Type atau typedef, sehingga analisis leksikal dapat memeriksa tabel simbol untuk menentukan apakah lexeme adalah tipe token atau identifier.


Tugas-tugas Analisis leksikal

1. Konversi Program Sumber Menjadi Barisan Token
Mengubah program sumber yang dipandang sebagai barisan byte/karakter menjadi token

2. Menangani Kerumitan Sistem Masukkan/Keluaran
Karena analisis leksikal biasanya berhubungan langsung dengan kode sumber yang diwadahi file, maka analisis leksikal juga bertindak sebagai benteng untuk komponen-komponen lain di kompilator dalam mengatasi keanehan-keanehan sistem masukkan/keluaran sistem operasi dan sistem komputer.

Optimasi perlu dilakukan agar analisis leksikal membaca karakter degan sekaligus membaca sejumlah besar bagian file.

Perangkat masukkan/keluaran benar-benar diisolasi agar tidak terlihat oleh parser dan komponen-komponen kompilator yang lain.


Tugas-tugas tambahan Analisis Leksikal

1. Penghilangan komentar dan whitespace (tab,spasi,karakter lainnya)
Tindakan housekeeping dilakukan scanner sehingga mengisolasikan dari parser dan komponen-komponen kompilator lain.

Peran ini menyederhanakan perancangan parser (dan grammar bahasa pemrograman).

Scanner juga mencatat nomor baris saat itu sehingga penanganan kesalahan yang cerdas dapat mengirim pesan kesalahan dengan lebih akurat.

2. Konversi literal/konstanta numerik menjadi tipe data tertentu
Analisis leksikal dapat mengirim token, dan nilainya. Nilai ini biasa disebut atribut.

Namun demikian, bila analisis leksikal ditambahin dengan tugas-tugas tambahan yang terlalu banyak juga akan menjadi tidak baik. Karena itu membatasi analisis leksikal hanya untuk melakukan tugas pengenalan pola token (ditambah membuang komentar) adalah mempermudah pemeliharaan.


Tahap Pelaksanaan Analisis Leksikal
- Pada single one pass
Terjadi interaksi antara scanner dan parser. Sacnner dipanggil saat parser memerlukan token berikutnya. Pendekatan ini lebih baik karena bentuk internal program sumber yang lengkap tidak perlu dibangun dan disimpan di memori sebelum parsing dimulai.

- Pada separate pass
Scanner memproses secara terpisah, dilakukan sebelum parsing. Hasil scanner disimpan dalam file. Dari file tersebut, parsing melakukan kegiatannya.

Scanner mengirim nilai-nilai integer yang mempresentasikan bentuk internal token, bukan nilai-nilai string.

Keunggulan cara ini adalah ukurannya kecil dan tetap. Parser sangat lebih efisien bekerja dengan nilai integer yang mempresentasikan simbol daripada string nyata dengan panjang variabel.


Implementasi Analisis Leksikal

1. Pengenalan Token
 Scanner harus dapat mengenali token
- Terlebih dahulu dideskripsikan token-token yang harus dikenali

2. Pendeskripsian Token
- Menggunakan reguler grammar. Menspesifikasikan aturan-aturan pembangkit token-token dengan kelemahan reguler grammar menspesifikasikan token berbentuk pembangkit, sedang scanner perlu bentuk pengenalan.

- Menggunakan ekspresi grammar. Menspesifikasikan token-token dengan ekspresi reguler.

- Model matematis yang dapat memodelkan pengenalan adalah finite-state acceptor (FSA) atau finite automata.

3. Implementasi Analisis Leksikal sebagai Finite Automata
Pada pemodelan analisis leksikal sebagai pengenal yang menerapkan finite automata, analisis leksikal tidak cuma hanya melakukan mengatakan YA atau TIDAK. Dengan demikian selain pengenal, maka analisis leksikal juga melakukan aksi-aksi tambahan yang diasosiasikan dengan string yangsedang diolah.

Analisis leksikal dapat dibangun dengan menumpangkan pada konsep pengenal yang berupa finite automata dengan cara menspesifikasikan rutin-rutin (aksi-aksi) tertentu terhadap string yang sedang dikenali.

4. Penanganan Kesalahan di Analisis Leksikal
Hanya sedikit kesalahan yang diidentifikasi di analisis leksikal secara mandiri karena analisis leksikal benar-benar merupakan pandangan sangat lokal terhadap program sumber.

Bila ditemui situasi dimana analisis leksikal tidak mampu melanjutkan proses karena tidak ada pola token yang cocok, maka terdapat beragam alternatif pemulihan. yaitu:

- "Panic mode" dengan menghapus karakter-karakter berikutnya sampai analisis leksikal menemukan token yang terdefinisi bagus

- Menyisipkan karakter yang hilang

- Mengganti karakter yang salah dengan karakter yang benar

- Mentransposisikan 2 karakter yang bersebelahan.

Salah satu cara untuk menemukan kesalahan-kesalahan di program adalah menghitung jumlah transformasi kesalahan minimum yang diperlukan untuk mentransformasikan program yang salah menjadi program yag secara sintaks benar.


Input Buffering

Perancangan analisis leksikal seharusnya dapat membuat buffering masukkan yang membantu mempercepat proses pembacaan dari file serta mempunyai fleksibelitas yang tinggi agar analisis leksikal tidak bergantung platform sehingga mempunyai portabilitas yang tinggi.



Share:

Selasa, 22 April 2014

Cara Mencegah Kanker Otak


Kanker otak merupakan jenis penyakit yang sangat berbahaya. Sel kanker yang menyerang otak tentunya mengakibatkan bahaya yang sangat berat bagi penderitanya. Otak merupakan sistem saraf yang mengendalikan pikiran. Karena kanker pada otak sudah semakin hari kian banyak penderitanya. Maka dari itu kita perlu melakukan pencegahan.
Tujuan dari pencegahan ini tak lain dan tak bukan hanyalah melindungi diri Anda dari serangan kanker dan jumlah mengurangi penderita kanker supaya tidak semakin banyak.

Cara Mencegah Kanker Otak

Tersebut disini ada beberapa langkah yang bisa Anda kerjakan untuk menghindari atau mencegah resiko terkena kanker otak :
kanker-otak
- Jangan sempat kepala anda terbentur hingga alami trauma. Jauhi kegiatan yang memiliki resiko tinggi. Dan senantiasa pakai helm waktu anda mengendarai motor.
- Selalu hindari benda dengan kandungan radiasi yang tinggi dikarenakan tuturan radiasi dengan level yang spesifik akan bisa menyebabkan perubahan sel abnormal. Bila menelepon memakai handphone, Anda dapat pakai handsfreeagar supaya ada jarak pada ponsel dan juga kepala hingga mampu untuk kurangi kandungan panas serta radiasi.
- Jauhi bahan karsiogenik, contohnya minyak goreng yang digunakan berulang-ulang untuk menggoreng.
- Jangan kecanduan merokok
- Sebaiknya memperbanyak konsumsi makanan yang memiliki serat, dan jangan dibiasakan untuk mengonsumsi makanan yang berlemak.
- Silahkan perbanyak mengonsumsi buah yang memiliki kandungan antioksidan seperti halnya kurma, buah jeruk, buah strawberry, kismis, buah plum serta anggur merah. Kandungan zat antioksidan dapat membantu melancarkan peredaran darah pada saraf otak hingga bisa menghindari berlangsungnya penyempitan ataupun terjadi penyumbatan pada pembuluh darah.
- Biasakan untuk hidup dengan pola hidup sehat. Seperti tidur yang cukup, teratur melakukan olahraga supaya ada sirkulasi pada darah menuju otak.
  1. Jauhi makanan berlemak (gulai, daging, rendang, cemilan)
  2. Hindari bahan karsiogenik, misalnya minyak goreng yang dipakai berulang-ulang.
  3. Jauhi benda dengan kadar radiasi tinggi karena paparan radiasi dalam level tertentu dapat memicu perkembangan sel abnormal. Jika menelepon menggunakan handphone, gunakan handsfree agar ada jarak antara ponsel dengan kepala (otak) sehingga mengurangi kadar panas dan radiasi.
  4. Hindari buah-buahan yang mengandung alkohol (Durian, Alpukat, Lengkeng, Anggur)

Itu merupakan langkah awal didalam pencegahan kanker otak. Pastinya kita tahu bahwa pencegahan sangat baik dari pada mengobati. Maka dari itu Anda bisa mempraktekkan beberapa cara di atas demi menghindari bahaya kanker yang menyerang bagian saraf pusat yakni otak. Kuncinya didalam pencegahan harus melakukan secara teratur dan tidak melupakan pola hidup yang sehat dan yang pasti membuat Anda semakin sehat dan panjang umur. Kalau bukan Anda yang menjaga kesehatan Anda sendiri dengan baik, lalu siapa lagi ?
Sumber : http://manfaatsehat.com/cara-mencegah-kanker-otak/
Share:

Flag Couter

Flag Counter

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

NOAH

My Facebook

https://www.facebook.com/rico.adam

Translate

Jam Digital

My Calender

Trafic Feed