Kembang Api


Matahari

Loading...

Sabtu, 29 Juni 2013

Pengertian BILOKS

Bilangan oksidasi didefinisikan sebagai jumlah muatan negatif dan positif dalam atom, yang secara tidak langsung menandakan jumlah elektron yang telah diterima atau diserahkan. Bilangan oksidasi berguna secara khusus dalam mengekspresikan persamaan reaksi setengah yang terjadi dalam reaksi oksidasi dan reduksi bilangan yang menyatakan banyaknya electron pada suatu atom yang terlibat dalam pembentukan ikatan.Bilangan oksidasi juga menunjukan muatan suatu ion dalam senyawa.BIlangan oksidasi dikenal juga sebagai valensi..
Menentukan Biloks (Bilangan Oksidasi)
1. Tentukan biloks unsur yang sudah tetap
- Logam IA = (+1) yaitu (Li, Na, K)
- Logam IIA = (+2) yaitu (Be, Ca, Mg)
- Logam IIIA= (+3) yaitu (Al)
- Flour (F) = -1
2. Tentukan Biloks umum
- H = +1 dan O = -2
- Halogen = (-1) yaitu (F, Cl. Br, I)
3. Baru Tentukan Biloks unsur yang ditanyakan,
- Total Biloks senyawa = 0
- Total Biloks Senyawa ion = muatannya

Contoh:
A. Tentukan Bilok unsur-unsur dalam K2Cr2O7
Langkahnya adalah:
1. Biloks K = 2 x (+1) = +2
2. Biloks O = 7 x (- 2) = -14
Jumlah = -12
3. Biloks 2 atom Cr = +12 (total = 0)
Maka Biloks Cr = +6 (dibagi 2)

B. Tentukan biloks unsur-unsur pada NaClO4
Langkah-langkah :
1. Biloks Na = 1
2. Biloks O = 4 x (-2) = -8
Jumlah = -7
3. Bilok Cl = +7 (total = 0)

C. Tentukan Biloks Unsur-unsur pada ion MnO4-
Langkah-langkah :
1. tidak ada unsur pertama
2. Biloks O = 4 x (-2) = -8
Jumlah = -8
3. Biloks Mn = +7 (total = -1)

Latihan :
Dengan menggunakan urutan langkah-langkah di atas,
Buktikanlah :
1. Biloks O pada Na2O = -2
2. Biloks O pada Na2O2 = -1
3. Biloks O pada OF2 = +2
4. Biloks Cl pada NaCl = -1
5. Biloks Cl pada ClO2- = + 3
Cara menentukan bilangan oksidasi suatu unsur dalam ion atau senyawanya mengikuti aturan-aturan sebagai berikut :
a. Bilangan oksidasi unsur bebas ( atom atau molekul unsur) adalah 0 (nol).
Contoh: Ne, H2, O2,Cl2,P4,C,Cu,Fe dan Na.
http://3.bp.blogspot.com/-ekwWfiUMzZ0/T5JvxYOkEpI/AAAAAAAAAGY/ZZM6EcNfQTg/s1600/bo1.jpg
b.  Bilangan oksidasi ion monoatom dan poliatom sama dengan muatan ionnya.
Contoh : untuk ion monoatom Na+, Ca2+, dan Cl- memiliki bilangan oksidasi berturut-turut +1,+2 dan -1.
http://3.bp.blogspot.com/--0U22ewq-K4/T5Jv7LV3NSI/AAAAAAAAAGg/n7UMfsx2sTI/s1600/bo2a.jpg
Contoh : untuk ion poliatom NH4+, SO42-, dan PO43- memiliki bilangan oksidasi berturut-turut +1, -2, dan -3.
http://1.bp.blogspot.com/-YHSFWxrRNAc/T5JwJ1zHJeI/AAAAAAAAAGo/-7fk9QmPA6s/s1600/bo2b.jpg
c.  Bilangan oksidasi unsur golongan IA adalah +1 dan unsur golongan IIA adalah +2. Misalnya, bilangan oksidasi unsur Na pada senyawa NaCl, Na2SO4, dan Na2O adalah +1. Bilangan oksidasi unsur Ca pada senyawa CaCl2, CaSO4, dan CaO adalah +2.
http://1.bp.blogspot.com/-ocEyCN72WCo/T5JwjTxXpLI/AAAAAAAAAGw/C9cDWu7hoAc/s400/bo3.jpg
d. Bilangan oksidasi unsur golongan VIA pada senyawa biner adalah -2 dan unsur golongan VIIA  pada senyawa biner adalah -1. Misalnya, bilangan oksidasi unsur S pada Na2S dan MgS adalah -2. Bilangan oksidasi unsur Cl pada NaCl, KCl, MgCl2, dan FeCl3 adalah -1.
http://1.bp.blogspot.com/-Yf453FvjFg4/T5Jw4xEhtHI/AAAAAAAAAG4/2KnTmNvCWTs/s400/bo4.jpg
e.  Bilangan oksidasi unsur H pada senyawanya adalah +1. Misalnya, bilangan oksidasi unsur H pada H2O, HCl, H2S, dan NH3 adalah +1. Bilangan oksidasi unsur H pada senyawa hidrida adalah -1. Misalnya, bilangan oksidasi unsur H pada NaH, CaH2, dan AlH3 adalah -1.
http://1.bp.blogspot.com/-9uXR7q48nVo/T5JxSS-wkqI/AAAAAAAAAHA/706Ta32TtXM/s400/bo5.jpg
f.  Bilangan oksidasi unsur O pada senyawanya adalah -2, kecuali pada senyawa biner dengan F, bilangan oksidasi unsur O-nya adalah +2. Bilangan oksidasi unsur O pada senyawa peroksida, seperti H2O2 dan BaO2 adalah -1. Dalam senyawa superoksida bilangan oksidasinya adalah -1/2, seperti pada KO2 dan NaO2
http://1.bp.blogspot.com/-tC8EJi9DjKs/T5JxkjNJHXI/AAAAAAAAAHI/IW_qYNLydzQ/s1600/bo6.jpg
g. Jumlah bilangan oksidasi untuk semua atom unsur dalam molekul atau senyawa adalah 0. Jumlah bilangan oksidasi untuk atom atau unsur pembentuk ion poliatom sama dengan muatan ion poliatomnya. Misalnya, ion NH4+ mempunyai jumlah bilangan oksidasi unsur N adalah -3 dan H adalah +1.
http://4.bp.blogspot.com/-qC87OdRpbi0/T5Jx1cPYB7I/AAAAAAAAAHQ/94hFK2KqEZY/s400/bo7fix.jpg
Molekul NaCl terdiri dari atom Na dan atom Cl. Jumlah biloks senyawanya adalah 0, sedangkan biloks Na adalah +1 sehingga biloks Cl dapat dicari dengan rumus : 
biloks Na + biloks Cl         = 0
         +1        + biloks Cl     = 0
                        Biloks Cl      = -1
Molekul V2O3 terdiri dari 2 atom V dan 3 atom O. Jumlah biloks molekul tersebut adalah 0, biloks O adalah -2 sehingga biloks V dapat dicari dengan rumus : 
2(biloks V) + 3(biloks O)       = 0
         2(biloks V) + 3(-2)         = 0
                 2(biloks V)              = +6
                  Biloks V                 = +3
Molekul NH4+ terdiri dari atom N dan 4 atom H. Jumlah biloks unsur pembentuk ion poliatom tersebut adalah +1, biloks H adalah +1 sehingga biloks N dapat dicari dengan rumus :
(biloks N) + 4(biloks H)       = 0
           (biloks N) + 4(+1)      = +1
            Biloks N                     = -3
  •     Aturan 1:
Bilangan oksidasi sebuah atom dalam sebuah unsur bebas (tidak terikat) adalah nol
  • ·         Aturan 2:
Jumlah bilangan oksidasi semua atom dalam sebuah molekul atau satuan rumus adalah nol. Untuk sebuah ion, jumlah bilangan oksidasi sama dengan muatan ion tersebut, baik besar maupun tandanya, tanpa memperdulikan apakah ion tersebut terdiri dari atom tunggal ataukah terdiri dari dua atom atau lebih.
  • ·         Aturan 3:
Dalam senyawanya, logam-logam alkali (Golongan 1A dalam table berkala) yaitu: Li, Na, K, Rb , Cs ,Fr. Mempunyai bilangan oksidasi +1 dan logam logam alkali tanah (golongan IIA dalam tabel berkala) yaitu Be, Mg, Ca, Sr, Ba, Ra mempunyai bilangan oksidasi +2
  • ·         Aturan 4:
Dalam senyawanya, bilangan oksidasi hydrogen adalah +1, sedangkan untuk fluor : -1
  • ·         Aturan 5:
Dalam senyawanya oksigen mempunyai bilangan oksidasi -2
  • ·         Aturan 6:
Dalam senyawa biner dengan logam, unsur-unsur golongan VII A, mempunyai bilangan oksidasi -1, golonga VIA : -2, Golongan VA : -3
Bila ada dua aturan dapat muncul berlawanan dengan yang lain, ikuti aturan yang muncul lebih dulu  dalam daftar.



Senyawa biner adalah senyawa yang dibentuk oleh dua unsur. Pembentukan senyawa dapat melalui berbagai macam bentuk ikatan kimia seperti ikatan ionic dan ikatan kovalen.


Tata Nama Senyawa Biner
Senyawa biner  adalah senyawa yang hanya terdiri dari dua jenis unsur,misalnya air (H2O), amonia (NH3), dan metana (CH4).
1. Rumus Senyawa
Unsur yang terdapat lebih dahulu dalam urutan berikut ditulis di depan.
B – Si – C – S – As – P – N – H – S – I – Br – Cl – O – F


Rumus kimia amonia lazim ditulis sebagai NH3 bukan H3N dan rumus kimia air lazim ditulis sebagai H2O bukan OH2
2. Nama Senyawa
Nama senyawa biner dari dua jenis nonlogam adalah rangkaian nama kedua jenis unsur dengan akhiran ida pada nama unsur yang kedua.
Contoh:
• HCl = hidrogen klorida
•H2S = hidrogen sulfida
Jika pasangan unsur yang bersenyawa membentuk lebih dari satu jenis senyawa, maka senyawa-senyawa itu dibedakan dengan menyebutkan angka indeks dalam bahasa Yunani sebagai berikut.
1 = mono
2 = di
3 = tri
4 = tetra
5 = penta
6 = heksa
7 = hepta
8 = okta
9 = nona
10 = deka
Indeks satu tidak perlu disebutkan, kecuali untuk karbon monoksida.
Contoh:
• CO  = karbon monoksida (awalan mono untuk C tidak perlu)
•CO2 = karbon dioksida
•N2O  = dinitrogen oksida
• NO  = nitrogen oksida
•N2O3 = dinitrogen trioksida
•N2O4 = dinitrogen tetraoksida
•N2O5 = dinitrogen pentaoksida
•CS2 = karbon disulfida
• CCl4 = karbon tetraklorida
(Ralph H. Petrucci – Suminar, 1985)
c. Senyawa Umum
Senyawa yang sudah umum dikenal tidak perlu mengikuti aturan diatas. Contoh:
•H2O = air
•NH3 = amonia
•CH4 = metana
 


  • ·         Penamaan senyawa Biner Ionik
Untuk penamaan senyawa biner ionic yang dibentuk dari satu unsur logam dan satu unsur bukan logam, mula-mula dituliskan nama logam tanpa modifikasi dan diikuti dengan penamaan unsur bukan logam melalui pemberian akhiran “ida”
KCI         : Kalium Klorida
MgF2        : Magnesium Flourida
K2O        : Kalium oksida
Senyawa ion walaupun terdiri dari ion positif dan ion negative tetapi secara keseluruhan bermuatan nol. Satuan rumus harus mengandung ion positif dan ion negative sedemikian rupa sehingga jumlah muatan bersihnya : nol. Unsur-unsur tertentu dapat mempunyai lebih dari satu bentuk ion. Untuk menyatakan perbedaan rumus dan nama-nama senyawa, dalam hal ini kita tentukan bilangan oksidasi unsur-unsur tersebut. Ada dua system penulisan yang umum dipergunakan :
1.       Penamaan dengan penulisan bilangan oksidasi memakai angka romawi (SISTEM STOCK)
2.       Penamaan dengan system akhiran “O” untuk kation dengan bilangan oksidasi yang lebih rendah, akhiran “I” untuk kation dengan bilangan oksidasi yang lebih tinggi.

  • ·         Penamaan Senyawa Biner Kovalen
Penamaan senyawa biner kovalen yang terdiri dari unsur non-logam dengan unsur logam, mula-mula dituliskan unsur dengan bilangan oksidasi positif. Misalnya kita tuliskan HCl bukannya ClH. Penamaan dilakukan dengan dasar pemberian awal yang menyatakan jumlah relatif tiap jenis atom dalam sebuah molekul pemberian awalan dengan mempergunakan :
·         Mono                      : 1                                          Hepta                     : 7
·         Di (bis)                   : 2                                          Okta                       : 8
·         Tri (tris)                  : 3                                          Nona                      : 9
·         Tetra (tetrakis)        : 4                                          Deka                      : 10
·         Penta (pentakis)      : 5                                          Undeka                  : 11
·         Heksa (heksakis)    : 6                                          Dodeka                   : 12
Awalan yang berada dalam kurung kini jarang dipergunakan dan lebih banyak dipakai dalam penamaan senyawa kompleks. Jadi untuk dua oksidasi utama belerang dapat kita tulis
SO2 : belerang dioksida atau berdasarkan system stock : belerang (IV) oksida
SO3 : belerang trioksida atau berdasarkan system stock : belerang (VI) oksida
Sistem awalan dapat menunjukkan hubungan antara nama dan rumus dengan tepat,sedangkan  system stock ternyata tak selalu dapat menampakkan hubungan nama dan rumus.
Br2Br4 : berdasarkan system awalan dinamakan diborontetrabromida, sedangkan menurut system stock dinamakan Buron (II) bromide. Nama Boron bromide dapat drancukan dengan BBr2 : Bebera[a contoh penamaan dapat dilihat pada tabel  dibawah ini
·         Penamaan Asam-asam Biner
Ada segolongan biner kovalen yang dalam keadaan tertentu dapat melepaskan ion-ion hydrogen (H+) sehingga senyawa tersebut dikenal sebagai suatu “asam”. Asam-asam biner penting sangat terbatas jumlahnya. Penamaannya berdasarkan gabungan dari awalan “hidro” dengan nama bukan logam yang diberi akhiran “at”

Sumber : http://chemistry35.blogspot.com